Tirza Ong - Digital Specialist

Tirza Ong - Digital Specialist Paid Performance Specialist

Selama ini aku yakin aku udah “bisa” pakai AI.Buka chat, ketik prompt, beres.Tapi ternyata… itu baru level hemat waktu, ...
05/02/2026

Selama ini aku yakin aku udah “bisa” pakai AI.
Buka chat, ketik prompt, beres.

Tapi ternyata… itu baru level hemat waktu, belum level partner berpikir.

Ibaratnya, kita dikasih “Ferrari” bernama AI, tapi masih dipakai kayak sepeda: cuma buat ringkas artikel, bikin email standar, atau nulis caption cepat.

Padahal riset nunjukin:
"prompt yang jelas konteks, tujuan, dan format bisa bikin kualitas jawaban naik berkali-kali lipat, dan framework sederhana bikin hasil lebih bagus dengan revisi jauh lebih sedikit."

Jadi masalah utamanya bukan di teknologinya,
tapi di literasi cara kolaborasi kita dengan teknologi.

AI itu lebih mirip sesi coaching atau depth interview,
bukan sekadar Google yang sedikit lebih pintar.

Di carousel ini aku ngajak kamu geser mindset dari:
❌ “Aku cuma pakai AI buat hemat waktu”
ke
✅ “Aku pakai AI sebagai partner berpikir buat ningkatin cara berpikir dan ambil keputusan.”

Kalau kamu pengen contoh framework & prompt AI yang bisa langsung dipakai buat kerja atau bisnis,
komen: AI FRAMEWORK di bawah ya.

BARTER PRODUK TAPI DISURUH NGEJAR SALES? 🚩Beberapa hari lalu sempet lewat di Threads ada yang share kalo sebuah brand mi...
04/02/2026

BARTER PRODUK TAPI DISURUH NGEJAR SALES? 🚩

Beberapa hari lalu sempet lewat di Threads ada yang share kalo sebuah brand minta beberapa creatornya untuk "retake konten" cuma karena barangnya nggak laku.

Wah, baca itu langsung menjerit hati kecilku. 😖

Sebagai mantan UGC manager yang dulu pegang ribuan kreator worldwide, rasa-rasanya belum ada brand yang berbuat semena-mena seperti itu ke para creatorku. Apa karena mostly bukan brand lokal Indonesia?

Ah, tapi aku yakin di luar pun mungkin ada brand begitu, cuma aku bersyukur banget ga pernah kerja bareng yang model begitu. Tapi beneran deh, ini keterlaluan banget karena ini itu adalah salah satu bentuk eksploitasi. 😡

Nah, hari ini aku pengen share kegelisahanku melihat ekosistem UGC di Indonesia yang kupikir-pikir kok "agak laen" ya...

Sebagai orang yang pernah di sisi manajemen brand, aku mau kasih sedikit reality check:

✍️ Creator itu Creative Partner, Bukan Sales Lapangan. Tugas kita adalah bangun trust dan bikin konten yang engaging. Kalau SOW awal sudah beres, ya tugas kita selesai.

✍️ Variabel Sales itu Banyak Banget. Produk nggak laku? Cek dulu: Landing page-nya lemot nggak? Penawaran produknya menarik nggak? Ads-nya jalan nggak? Jangan langsung tunjuk creatornya.

✍️ Barter Value itu Simbiosis Mutualisme. Kita dapet barang, brand dapet aset konten. Kalau minta retake berkali-kali tanpa extra fee? Itu namanya eksploitasi, bukan kolaborasi.

Buat teman-teman creator apalagi yang pemula, jangan takut buat bilang TIDAK kalau permintaannya sudah nggak masuk akal atau di luar kontrak awal.

Profesionalitas itu harus dua arah! 🤝

Aku emang masih baru di sisi creator, tapi aku tahu betul gimana aturan main yang sehat di industri ini.

Yuk, kita bareng-bareng edukasi brand biar makin paham bedanya awareness dan direct sales.

Kalian pernah diposisi yang sama nggak? Disuruh retake padahal udah deliver sesuai janji? Tulis di kolom komentar yuk, kita diskusi sehat! 👇

Di Part 1, aku udah ngomong jujur:AI sekarang sering dibilang “lebih ngerti” daripada manusia, dan banyak dari kita (inc...
03/02/2026

Di Part 1, aku udah ngomong jujur:
AI sekarang sering dibilang “lebih ngerti” daripada manusia, dan banyak dari kita (including me) ternyata pendengar yang… ya gitu deh. 😅

Hari ini, kita masuk ke PART 2: AI-Inspired Listening Hacks
Bukan supaya kita jadi kayak mesin, tapi supaya kita belajar ulang skill mendengarkan yang sebenarnya sangat manusiawi.

Beberapa hal yang sedang latih sendiri (lagi) terlepas dari pengalamanku sebagai konselor:
✋ Nahan diri 5 detik sebelum jawab (no interrupting)
🤔 Mengenali dan menyebut nama emosi yang gue dengar di balik kata-kata
🫶 Gak buru-buru comfort atau kasih solusi, maksudnya...

Nanya dulu: “Mau solusi atau cuma butuh space buat curhat?”
Sadar kapan aku pengen hijack dengan “Aku juga…”

Kelihatannya kecil, tapi impact-nya gede banget:
🧠 Percakapan jadi lebih dalam
💬 Orang jadi lebih jujur
🤝 Hubungan terasa lebih aman dan tulus

Kalau AI bisa ‘dengerin’ tanpa nge-judge dan tanpa curi panggung, masa kita gak bisa?

Swipe buat lihat 5 AI-inspired listening hacks + tantangan 24 jam yang bisa kamu coba hari ini.

SAVE post ini buat diulang lagi nanti, dan share ke orang yang kamu pengen dengerin kamu lebih baik. 😉

Kalau kamu udah nonton Part 1, komen “READY”.
Kalau belum, balik dulu ke post sebelumnya ya.

Baru sadar, selama ini kita kadang terlalu meremehkan kekuatan… INFOGRAFIS. 😅Waktu aku baca lagi data soal infografis, t...
02/02/2026

Baru sadar, selama ini kita kadang terlalu meremehkan kekuatan… INFOGRAFIS. 😅

Waktu aku baca lagi data soal infografis, ternyata alasannya kenapa format ini wajib banget di toolbox content marketer itu kuat banget:

🧠 Otak kita cuma “izinin” sekitar 1% informasi buat benar-benar masuk, sisanya ke-filter begitu aja.

👀 90% informasi yang dikirim ke otak itu visual, dan visual diproses jauh lebih cepat daripada teks.

🤓 Sekitar 65% orang adalah visual learners alias lebih gampang paham lewat gambar daripada paragraf panjang.

Pencarian kata “infographic” di Google sempat naik lebih dari 800% hanya dalam 2 tahun.

Publisher yang pakai infografis bisa lihat kenaikan trafik rata-rata di atas yang tidak pakai.

Jadi masuk akal! 👌
Karena infografis adalah cara paling simpel buat jelasin sesuatu yang kompleks, bikin orang CEPAT paham, dan bikin pesan kita lebih nempel di kepala.

Kalau selama ini kamu cuma main di caption panjang atau artikel, mungkin ini saatnya:
🔹 Ubah data, riset, atau long-form blog kamu jadi 1 infografis utama
🔹 Recycle lagi jadi beberapa carousel dan potongan konten pendek
🔹 Pakai di blog, landing page, email, sampai Pinterest

Pertanyaannya bukan lagi “perlu gak ya bikin infografis?”

Tapi, seberapa banyak konten kamu yang sebenernya lebih cocok jadi visual daripada teks?

Kalau kamu tertarik yuk kita bongkar:
👉 Step by step bikin infografis yang gak cuma cantik tapi juga CONVERT
👉 Cara daur ulang 1 infografis jadi banyak konten (IG, Pinterest, blog, PDF)

Drop komentar INFOGRAFIS di bawah. 🎯

Content ini terinspirasi dari artikel Oli Gardner, “Why Do Infographics Make Great Marketing Tools?” di Unbounce.

01/02/2026

Aku Baru Sadar: Ternyata Aku S**a Motong Omongan Orang

Beberapa hari lalu aku baca newsletter dari Jeff Bullas berjudul, “We Interrupt Every 11 Seconds: Why AI Listens Better Than Your Best Friend,” dan jujur… aku ke-tampar banget.

Ternyata, cara kita mendengarkan sekarang itu parah banget.
Bukan cuma soal sopan santun, tapi sampai level bikin orang merasa sendirian, walaupun kita lagi ngobrol.

1. Kita Ngira Kita Dengerin. Padahal…
Beberapa insight yang bikin aku mikir ulang:

2. Rata-rata manusia cuma ingat sekitar seperempat dari apa yang kita dengar dalam percakapan.

Banyak orang memotong omongan dalam 11 detik pertama orang lain mulai bicara.

Sebagian besar dari kita “mendengarkan” sambil nyari celah buat ngomong tentang diri sendiri.

Kalau dipikir-pikir, gak heran kalau makin banyak orang curhat ke AI chatbot. Meski cuma mesin, mereka:

Gak pernah motong.

Gak nge-judge.

Gak bosen dengar cerita yang sama.

Selalu ada jam berapa pun.

Bukan karena AI itu penuh kasih. Tapi karena standar listening manusia lagi turun banget.

Yang AI Gak Punya (Dan Kita Masih Punya)
Di sisi lain, ada hal-hal yang AI gak akan bisa tiru sepenuhnya:

Rasa peduli beneran – milih hadir buat orang lain walau kita lagi capek atau sibuk.

Kepercayaan yang dibangun pelan-pelan – lewat konsistensi, luka, konflik, dan baikan lagi.

Kehadiran fisik – tatapan mata, nada suara, dan energi yang bikin kita ngerasa “gue gak sendirian”.

Justru karena itu aku ngerasa:
Kalau AI aja bisa bikin orang merasa lebih didengar, bukannya kita malu sebagai manusia?

Eksperimen 24 Jam: Latihan Jadi Pendengar
Aku lagi coba latihan kecil selama 24 jam, mungkin kamu juga mau ikutan:

1. Jangan motong omongan.
Tahan diri minimal 5 detik sebelum jawab.

2. Kasih nama emosinya.
“Kayaknya kamu lagi sedih / kewalahan / kecewa, bener gak?”

3. Tahan diri buat gak langsung ngasih solusi.
Kadang orang cuma butuh ditampung dulu, bukan diperbaiki.

4. Tanya dulu:
“Kamu mau dibantu cari solusi, atau cuma butuh space buat curhat?”

5. Jangan curi spotlight dengan ‘Aku juga…’.
Biarkan ceritanya tetap tentang dia, bukan tentang kita.

Kelihatannya sederhana, tapi pas dipraktikkan… berasa banget betapa jarangnya kita benar-benar didengar dan mendengar.

Pertanyaan Buat Kamu

Kalau kamu jujur ke diri sendiri:

Kamu lebih sering jadi pendengar, atau “penyiar” yang nunggu giliran ngomong?

Pernah gak merasa lebih aman curhat ke chat/AI/game daripada ke manusia beneran?

Tulis di komentar:
Hal apa yang paling susah buat kamu saat mencoba benar-benar mendengarkan orang lain?

Tulisan ini terinspirasi dari newsletter Jeff Bullas tentang AI dan deep listening, yang juga mengangkat riset-riset soal bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar secara manusiawi.

I just realized I interrupt people every 11 seconds. 😳Baru baca newsletter dari  dan honestly, I feel ATTACKED. 🥲Ternyat...
01/02/2026

I just realized I interrupt people every 11 seconds. 😳

Baru baca newsletter dari dan honestly, I feel ATTACKED. 🥲

Ternyata, AI chatbots are now considered "better listeners" than most humans.
Dan setelah kupikir-pikir, aku paham alasannya.

The research hit me hard:
→ Kita cuma ingat 25% dari apa yang kita dengar
→ Average person interrupts within 11 SECONDS of someone starting to talk (guilty 🙋‍♀️)
→ 75% of the time, kita cuma nungguin giliran buat ngomong tentang diri sendiri
→ In one study, AI responses were rated 45% MORE empathetic than doctors'

I had to pause and reflect: How many times have I done the "me too" hijack?
How often do I jump to solutions instead of just... holding space?

This isn't just about being a "good person."

Deep listening is a BUSINESS skill:
→ Teams with listening leaders perform 40% better
→ Companies with listening cultures get +21% engagement & +19% innovation
→ Couples who listen well have 7.5x higher success rates

But here's the uncomfortable truth: most of us (including me) are committing one or more of the 7 Listening Sins.

I'm challenging myself to do better, and I want to bring you along.

Swipe through untuk baca:
✨ The stats that made me rethink everything
✨ Why people say "My AI understands me better than my friends!"
✨ The 7 Listening Sins (which one resonates with you?)

PART 2 coming in 2-3 days with 5 AI-inspired listening hacks we can actually USE.

SAVE this if you want to become a better listener than AI. 💾

Comment: Which Listening Sin (1-7) hits you the hardest? Let's be honest with ourselves.

Your "successful" promo might be killing your business.I just audited a restaurant spending $100K+ on Meta Ads (awarenes...
03/01/2026

Your "successful" promo might be killing your business.

I just audited a restaurant spending $100K+ on Meta Ads (awareness only, zero conversion tracking) and running 1-for-1 promos monthly.

Marketing manager: "We get so many customers!"

Me: "But are you making money?"

The math (swipe to see):
• Customer pays $68 for 2 dishes
• Your cost: $54
• Gross profit: $14
• Minus wages, rent, utilities, marketing = $0 or NEGATIVE

And no retention plan = they never come back at full price.

You just paid to work.

---

This isn't just restaurants:

🛒 E-commerce is doing deep discounts with no email flow
💼 Service providers offering unqualified free consults
📱 Agencies running awareness campaigns forever

Activity ≠ Strategy.

---

What works:

✅ Track ROAS, CAC, LTV (not reach/impressions)
✅ Run conversion campaigns (not just awareness)
✅ Test margin-positive promos (upsells, next-visit vouchers)
✅ Build retention (email, loyalty, data capture)

---

Truth bomb: If you can't name your CAC, LTV, or ROAS, you don't have a strategy. You have expensive guesswork.

Challenge: Drop ONE metric you track in comments. Can't name one? That's your sign. 👇

Baru-baru ini aku ngobrol cukup serius dengan beberapa fellow marketer dan kita diskusi soal AI SEO. Katanya, sekarang s...
02/01/2026

Baru-baru ini aku ngobrol cukup serius dengan beberapa fellow marketer dan kita diskusi soal AI SEO.

Katanya, sekarang semuanya serba membingungkan dan harus putar otak lebih keras buat nemuin strategi SEO yang cocok dan works di tengah gempuran AI.

Setelah kubaca dan kulakuin trial and error sendiri, aku rasa, kamu nggak perlu buang SEO lama, cuma perlu nambah layer aja.​

Ini yang berubah dari SEO lama ke AI SEO:
✨ Keyword → Prompt (8 kata vs 4 kata, lebih conversational)
✨ Backlinks → Brand mentions (mention tanpa link juga dihitung)
✨ Long-form → Structured content (FAQ, lists, tables)
✨ Traffic shift: AI tools bakal bigger than Google di 2028

Trus gimana?

Pakai dua-duanya aja! Why?

Why not? 🤣

SEO tradisional itu lebih fokus buat Google visibility sedangkan AI SEO fokusnya adalah buat ChatGPT, Perplexity, Google AI, dan tools atau platform AI lainnya. Jadi, kamu bisa memaksimalkan strategimu sesuai dengan sasarannya. 😉

Kalau kamu rasa konten ini bermanfaat, silakan disimpan dan dibagikan. Kalau kamu punya pengalaman yang beda, yuk diskusi di kolom komentar soal strategi SEO kamu sejak AI mulai kenceng. Diskusi kepala dingin dan saling membangun ya... 🤍

Starting 2026 with an insight. Good thoughts and discussion are welcome.
01/01/2026

Starting 2026 with an insight. Good thoughts and discussion are welcome.



I just audited a restaurant spending over $100K on Meta Ads for awareness campaigns (with zero conversion tracking) for an entire year…

We will run faster, burn brighter, but don’t forget to take a pause sometimes.Take a deep breath, hold the hands of our ...
01/01/2026

We will run faster, burn brighter, but don’t forget to take a pause sometimes.

Take a deep breath, hold the hands of our people who take the run with us.

Yang terpenting bukan seberapa cepat kita bergerak, tapi siapa yang ada bersama kita dalam perjalanan ini.

Untuk kalian yang selalu ada, bahkan di tengah segala kerumitan dan keributan, terima kasih. 🤍

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tirza Ong - Digital Specialist posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Tirza Ong - Digital Specialist:

Shortcuts

Share