11/01/2026
Siapa sangka, tahun 2026 dibuka bukan dengan euforia pesta, tapi justru berita soal turunnya pamor minuman beralkohol. Angkanya nggak main-main, penjualannya merosot hingga $830 miliar hanya dalam sebulan. Angka ini bukan cuma soal turun omzet, tapi mencerminkan perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat global, termasuk anak muda. Penyebabnya? Kombinasi unik antara tekanan ekonomi, kemajuan teknologi medis, dan tren gaya hidup sehat yang makin menjamur. Di satu sisi, dunia lagi pusing mikirin inflasi dan resesi. Di sisi lain, anak muda justru makin sadar pentingnya hidup sehat dan waras. Dan yang paling menarik, pergeseran ini terjadi bukan karena larangan atau aturan keras, tapi karena selera masyarakat sendiri yang berubah.
Kalau kita mundur sedikit ke tahun 2019, kita bisa lihat tanda-tanda perubahan itu sudah mulai muncul. Saat itu, kopi gula aren jadi primadona. Dari warung kecil sampai kafe hipster di ibu kota, semua berlomba menyajikan es kopi dengan gula aren yang katanya lebih sehat dan lokal banget. Tren ini bukan sekadar soal rasa, tapi tentang pilihan gaya hidup. Anak muda punya alternatif baru yang lebih murah, lebih sehat, dan tentunya lebih Instagrammable. Nongkrong nggak harus lagi di bar atau tempat karaoke. Cukup di coffee shop, dengan colokan, WiFi, dan segelas kopi dingin yang estetik. Minuman beralkohol perlahan kehilangan panggungnya.
Lalu datanglah pandemi tahun 2021. Dunia berhenti sejenak. Bar tutup, klub malam gelap, dan konser-konser dibatalkan. Tempat hiburan malam yang biasanya jadi pusat peredaran minuman beralkohol mendadak sunyi. Dan di tengah kekacauan itu, justru gaya hidup sehat menemukan momentumnya. Orang-orang mulai lari pagi, naik sepeda, masak sendiri di rumah, bahkan belanja sayur online. Kebiasaan yang dulunya dianggap ibu-ibu banget kini jadi simbol kesadaran baru. Olahraga pun jadi ajang eksistensi. Salah satu yang booming pasca-pandemi adalah padel, olahraga raket yang mirip tenis tapi lebih ringan dan fun. Anak muda berbondong-bondong nyobain, bukan cuma demi sehat, tapi juga demi konten.
Di sisi lain, sosial media juga ikut mendorong transformasi ini. Kalau dulu influencer sering upload foto party sambil memegang gelas wine, sekarang mereka posting video workout, meal-prep, atau cara bikin infused water. Narasi yang diangkat juga berubah, dari let’s party jadi let’s heal. Bahkan banyak artis dan selebriti yang sekarang buka bisnis minuman sehat, dari cold pressed juice sampai matcha latte. Brand-brand besar pun ikut menyesuaikan diri, menjual citra sehat dan bersih ketimbang glamor dan mabuk. Minuman beralkohol pun makin kehilangan tempat di hati para follower dan algoritma.
Faktor lainnya adalah ekonomi. Harga minuman beralkohol dari tahun ke tahun terus naik. Akibat tekanan inflasi global, penghasilan stagnan, dan prioritas hidup yang berubah, minum-minum dianggap tidak esensial. Anak muda sekarang lebih mikir, daripada beli satu botol wine ratusan ribu, mending ikut kelas online, traktir orang tua makan, atau sedekah. Perubahan ini tidak bisa dianggap remeh. Ketika gaya hidup bergeser dan kesadaran naik, industri yang tidak adaptif pasti kena imbas. Dan industri minuman beralkohol adalah salah satunya.
Kemajuan teknologi medis juga mempercepat pergeseran ini. Sekarang, orang bisa cek kondisi liver dan ginjal cuma lewat aplikasi dan hasil lab yang datang lewat WhatsApp. Banyak yang kaget melihat angka-angka hasil pemeriksaan mereka, lalu memutuskan berhenti minum demi umur panjang. WHO juga tidak tinggal diam. Organisasi Kesehatan Dunia secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada batas aman untuk konsumsi alkohol. Artinya, meskipun hanya minum sedikit, tetap berisiko. Pesan ini masuk ke kepala banyak orang, terutama generasi yang lebih peduli pada kesehatan mental dan fisik.
Dan sekarang, kita sudah masuk tahun 2026. Sebentar lagi Ramadhan tiba. Bagi banyak orang, bulan puasa bukan sekadar ibadah, tapi juga momen refleksi dan detox. Tidak hanya dari makanan dan minuman, tapi dari gaya hidup yang tidak sehat. Banyak yang sudah mulai menyusun niat, bahwa Ramadhan tahun ini tanpa rokok, tanpa minuman beralkohol, tanpa begadang, dan lebih banyak sedekah. Menariknya, semangat ini tidak datang dari khutbah Jumat semata, tapi juga dari komunitas, sosial media, bahkan tren gaya hidup urban yang baru. Kini sedekah bukan lagi kegiatan eksklusif orang berduit, tapi jadi tren positif yang relatable bagi semua kalangan.
Jadi, turunnya angka pembelian minuman beralkohol bukan cuma soal data. Ini adalah refleksi dari perubahan cara hidup, cara mikir, dan cara merasa anak-anak muda zaman sekarang. Mereka tidak butuh larangan pemerintah untuk berubah. Mereka hanya butuh alasan yang masuk akal, gaya hidup yang lebih sesuai, dan lingkungan yang mendukung. Dunia mulai sadar bahwa minum-minum bukan lagi simbol kebebasan, tapi bisa jadi beban. Dan makin banyak orang yang beralih ke hal-hal yang lebih sehat, lebih murah, dan lebih memberi makna.
Lucunya, ketika banyak negara mulai panik karena pemas**an dari industri alkohol menyusut, kita justru harusnya bersyukur. Karena ini adalah momen emas buat mendorong lebih banyak perubahan positif. Apalagi di negara seperti Indonesia yang dari dulu udah punya warisan minuman sehat tradisional, seperti jamu, kunyit asam, wedang jahe. Kenapa nggak kita dorong ini jadi gaya hidup masa kini?
Akhirnya, industri minuman beralkohol mungkin sedang menuju masa senjanya. Bukan karena serangan regulasi, tapi karena kesadaran kolektif yang tumbuh dari bawah. Anak muda makin peduli kesehatan, makin melek finansial, dan makin banyak yang sadar, hidup sehat itu lebih keren daripada mabuk. Dan siapa tahu, dalam beberapa tahun ke depan, bukan industri minuman beralkohol yang bersinar, tapi industri matcha, oat milk, dan warung sedekah yang jadi primadona baru. Karena kalau dipikir-pikir, memang sudah saatnya kurangi minum, perbanyak pahala sedekah. Bentar lagi bulan puasa, masa masih mau mabuk?
---
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.