PecahTelur

PecahTelur "Menyajikan Cerita Usaha yg Menginspirasi"
Liputan Keliling Indonesia! Full Video Di Channel Youtube! PecahTelur adalah Media tentang Sosial Bisnis.

PecahTelur memiliki 4 segmen tayangan;
1. Para Perintis (tentang para perintis usaha terutama yang berusia di bawah 30 thn)
2. TANDUR (tentang pertanian) & Ingon-ingon (peternakan)
3. Cerita Usaha (tentang mindset bisnis, strategi dan pilihan hidup)
4. SETARA (tentang perjuangan manusia yang dipandang sebelah mata)

11/01/2026

Di video kali ini, kita bakal kupas cerita usaha Mas Fahmi Auditya, salah satu pemilik Mahir Digital. Dulu masa remajanya habis buat belajar bisnis: presentasi ke sana-sini, ditolak, dicaci, ulang lagi.

Sampai akhirnya tahun 2015 dia nemu “jalur” jualan online, all out belajar digital marketing, trial-error berkali-kali, dan pelan-pelan naik level.

Sekarang, Mahir Digital tumbuh besar dan bisnisnya tembus omzet miliaran. Penasaran gimana prosesnya? Tonton full di YouTube Pecahtelur.

11/01/2026

Berawal dari desa, dari kontrakan sempit dan satu mesin sederhana, pasutri ini membangun usahanya tanpa utang bank dan tanpa investor. Dengan modal nekat, kerja keras, dan prinsip hidup yang dijaga, mereka perlahan menumbuhkan bisnis 3D printing dan desain yang kini melayani pesanan B2B dari berbagai daerah.

Di saat banyak usaha memilih jalan cepat lewat pinjaman, mereka justru memilih jalan pelan: setiap omzet diputar kembali, bukan dihabiskan. Dari mesin yang bekerja hampir 24 jam, kegagalan cetak, sampai pengalaman ditipu saat awal pindah ruko—semua dilewati tanpa menyerah.

Hari ini, dari desa, usaha mereka mampu menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan, membuka lapangan kerja, dan membuktikan bahwa bisnis bisa tumbuh dengan cara tenang, sederhana, dan penuh tanggung jawab.

Simak cerita lengkap dari owner hanya dalam episode "Cerita Usaha" di youtube PecahTelur.

Sering kali sebuah kutipan klasik mengisi ruang-ruang diskusi tentang hubungan, bahwa di balik laki-laki yang sukses, ad...
11/01/2026

Sering kali sebuah kutipan klasik mengisi ruang-ruang diskusi tentang hubungan, bahwa di balik laki-laki yang sukses, ada wanita yang hebat. Kalimat itu sudah begitu sering didengar, hingga seolah menjadi semacam kebenaran yang tak perlu dipertanyakan. Namun, banyak yang luput melihat sisi lainnya. Bahwa di balik wanita yang kuat, berdiri p**a seorang laki-laki yang tidak merasa perlu untuk mendominasi, melainkan memilih untuk mendampingi. Sosok yang hadir bukan untuk membatasi, melainkan untuk membersamai perjalanan tumbuh.

Dalam hubungan yang sehat, tidak ada lagi ruang untuk membuktikan siapa yang lebih unggul. Rumah tidak dijadikan tempat adu pendapat tanpa ujung. Sebaliknya, rumah menjadi ruang yang menawarkan kelegaan, tempat di mana seseorang bisa p**ang dalam keadaan lelah tanpa khawatir dihakimi. Di sana, kesalahan bukanlah bahan pertengkaran, tetapi justru peluang untuk saling membenahi dan memahami.

Ketika dua orang sepakat untuk tumbuh bersama, berbagai hal yang tadinya memicu konflik perlahan berubah menjadi titik balik. Emosi yang dulunya mudah meledak menjadi lebih terkelola. Sikap yang dulu enggan untuk bertanya kini berubah menjadi upaya memahami. Gengsi yang dulu menebal dalam hati perlahan mencair, memberi ruang bagi kerendahan hati untuk meminta maaf lebih dulu. Semua itu tidak terjadi seketika, tetapi dibentuk oleh kesediaan untuk belajar, jatuh bangun, lalu belajar lagi.

Perubahan seperti itu membawa hubungan ke tahap yang lebih dalam. Cinta tidak lagi dibatasi oleh rasa s**a semata. Ia berkembang menjadi rasa tanggung jawab, rasa ingin menjaga, dan rasa ingin menjadi tempat paling aman bagi satu sama lain. Tidak lagi didasari pada rasa butuh yang menekan, melainkan ketenangan yang muncul karena kehadiran satu sama lain.

Bentuk cinta semacam ini tidak terbentuk dari momen-momen besar yang dramatis. Ia tumbuh dalam keseharian yang biasa-biasa saja, dalam secangkir air hangat yang disiapkan di meja, dalam pesan singkat pengingat untuk makan, dalam pelukan tanpa banyak kata setelah hari yang berat. Cinta tidak selalu ditandai oleh keromantisan yang ramai. Kadang justru hadir dalam diam yang saling paham.

Dalam hubungan semacam ini, tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa yang lebih mencintai, atau siapa yang lebih berkorban. Tidak ada kompetisi, yang ada hanyalah kolaborasi. Ketika satu pihak lelah, pihak lain memilih untuk menguatkan. Ketika satu merasa kecewa, yang lain mencoba hadir tanpa menghakimi. Semua bergerak dalam irama yang saling menjaga, saling melengkapi, tanpa harus selalu seimbang setiap saat, tapi tetap penuh kesadaran.

Sakinah, istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pernikahan yang tenang, bukanlah kondisi bebas dari masalah. Justru, ketenangan itu muncul karena adanya kesepakatan untuk tetap berjalan bersama di tengah badai. Ia bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari, untuk sabar, untuk saling memahami, untuk menahan ego, dan untuk tetap bertahan bahkan ketika keadaan tidak nyaman.

Banyak yang menyangka bahwa hubungan ideal adalah yang tanpa konflik. Padahal, konflik akan selalu ada. Perbedaannya terletak pada cara menyikapi. Dalam hubungan yang sehat, konflik bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi justru menjadi momen untuk saling mendekat. Perbedaan pendapat tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang untuk saling mengenal lebih dalam.

Ketika seseorang merasa aman dalam sebuah hubungan, ia tidak lagi takut untuk menunjukkan sisi rentannya. Ia tidak perlu berpura-pura kuat setiap saat. Tidak perlu menutupi kesedihan dengan senyuman palsu. Hubungan seperti ini memberikan kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi, tanpa khawatir ditinggalkan hanya karena tidak selalu sempurna.

Dalam perjalanan hidup bersama, pasangan yang tumbuh bukanlah pasangan yang selalu sepakat dalam segala hal. Mereka adalah dua pribadi yang tetap memiliki perbedaan, namun sepakat untuk saling menyesuaikan. Tidak semua keputusan harus diperdebatkan. Kadang, cukup dengan saling percaya bahwa masing-masing berusaha memberi yang terbaik.

Dukungan tidak selalu hadir dalam bentuk saran atau solusi. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kehadiran yang tenang. Kehadiran yang tidak memaksa untuk segera pulih, tetapi cukup menjadi tempat bersandar. Dalam keheningan itu, rasa dicintai tumbuh lebih kuat daripada ribuan kata manis yang terlontar tanpa makna.

Tidak sedikit hubungan yang kandas bukan karena kurang cinta, tapi karena kurang pengertian. Kurangnya ruang untuk bicara tanpa diinterupsi, kurangnya kesabaran untuk mendengarkan sampai tuntas, dan kurangnya niat untuk benar-benar hadir saat dibutuhkan. Padahal, kebersamaan bukan hanya tentang tinggal di rumah yang sama, tetapi tentang berada dalam frekuensi yang sama, meski hanya dalam hal-hal kecil.

Hubungan yang kokoh dibangun bukan dari pencapaian besar, melainkan dari keseharian yang dijalani dengan niat baik. Dari upaya untuk tidak meninggikan suara saat sedang kesal. Dari kebiasaan memberi pelukan saat bangun pagi. Dari kemampuan menahan diri untuk tidak menyindir ketika kecewa. Semua itu adalah bentuk cinta yang diam-diam tumbuh dan memperkuat fondasi hubungan dari hari ke hari.

Pada akhirnya, rumah yang nyaman tidak harus luas atau mewah. Rumah yang nyaman adalah rumah yang memberi ruang bagi kedua hati untuk bernapas. Tempat di mana tidak perlu selalu benar, tapi cukup saling mengerti. Tempat di mana tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan sejajar dalam semangat untuk terus tumbuh.

Dan mungkin itulah yang selama ini dicari banyak orang. Bukan sekadar pasangan hidup, tapi teman tumbuh. Seseorang yang bersedia mendampingi perjalanan, dengan segala pasang surutnya. Seseorang yang tidak menjadikan hubungan sebagai ajang unjuk kuasa, melainkan sebagai ladang untuk menanam kebaikan bersama. Ketika rumah menjadi tempat p**ang yang sesungguhnya, cinta tidak perlu lagi dipertanyakan. Ia hadir, terasa, dan menguatkan, meski tanpa suara.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

11/01/2026

Di episode ini kita ngobrol bareng Mas Fahmi Auditya, Salah satu Founder & CEO Mahir Digital (MD) platform yang bantu orang mulai jualan online sampai tembus 10 juta pertama.

Mas Fahmi cerita perjalanan dari nol: mental ditempa sejak SMA, titik balik tahun 2015 setelah kenal digital marketing, trial-error jual berbagai produk, sampai akhirnya paham kunci utamanya: praktik (learning by doing), bukan kebanyakan teori.

MD dibangun sebagai ekosistem bimbingan: kopdar, webinar, grup WhatsApp, dan ratusan video course.Kalau kaamu lagi bingung mulai jualan online dari mana, video ini wajib ditonton!

Simak ceritanya hanya di episode "Cerita Usaha" di youtube PecahTelur

Siapa sangka, tahun 2026 dibuka bukan dengan euforia pesta, tapi justru berita soal turunnya pamor minuman beralkohol. A...
11/01/2026

Siapa sangka, tahun 2026 dibuka bukan dengan euforia pesta, tapi justru berita soal turunnya pamor minuman beralkohol. Angkanya nggak main-main, penjualannya merosot hingga $830 miliar hanya dalam sebulan. Angka ini bukan cuma soal turun omzet, tapi mencerminkan perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat global, termasuk anak muda. Penyebabnya? Kombinasi unik antara tekanan ekonomi, kemajuan teknologi medis, dan tren gaya hidup sehat yang makin menjamur. Di satu sisi, dunia lagi pusing mikirin inflasi dan resesi. Di sisi lain, anak muda justru makin sadar pentingnya hidup sehat dan waras. Dan yang paling menarik, pergeseran ini terjadi bukan karena larangan atau aturan keras, tapi karena selera masyarakat sendiri yang berubah.

Kalau kita mundur sedikit ke tahun 2019, kita bisa lihat tanda-tanda perubahan itu sudah mulai muncul. Saat itu, kopi gula aren jadi primadona. Dari warung kecil sampai kafe hipster di ibu kota, semua berlomba menyajikan es kopi dengan gula aren yang katanya lebih sehat dan lokal banget. Tren ini bukan sekadar soal rasa, tapi tentang pilihan gaya hidup. Anak muda punya alternatif baru yang lebih murah, lebih sehat, dan tentunya lebih Instagrammable. Nongkrong nggak harus lagi di bar atau tempat karaoke. Cukup di coffee shop, dengan colokan, WiFi, dan segelas kopi dingin yang estetik. Minuman beralkohol perlahan kehilangan panggungnya.

Lalu datanglah pandemi tahun 2021. Dunia berhenti sejenak. Bar tutup, klub malam gelap, dan konser-konser dibatalkan. Tempat hiburan malam yang biasanya jadi pusat peredaran minuman beralkohol mendadak sunyi. Dan di tengah kekacauan itu, justru gaya hidup sehat menemukan momentumnya. Orang-orang mulai lari pagi, naik sepeda, masak sendiri di rumah, bahkan belanja sayur online. Kebiasaan yang dulunya dianggap ibu-ibu banget kini jadi simbol kesadaran baru. Olahraga pun jadi ajang eksistensi. Salah satu yang booming pasca-pandemi adalah padel, olahraga raket yang mirip tenis tapi lebih ringan dan fun. Anak muda berbondong-bondong nyobain, bukan cuma demi sehat, tapi juga demi konten.

Di sisi lain, sosial media juga ikut mendorong transformasi ini. Kalau dulu influencer sering upload foto party sambil memegang gelas wine, sekarang mereka posting video workout, meal-prep, atau cara bikin infused water. Narasi yang diangkat juga berubah, dari let’s party jadi let’s heal. Bahkan banyak artis dan selebriti yang sekarang buka bisnis minuman sehat, dari cold pressed juice sampai matcha latte. Brand-brand besar pun ikut menyesuaikan diri, menjual citra sehat dan bersih ketimbang glamor dan mabuk. Minuman beralkohol pun makin kehilangan tempat di hati para follower dan algoritma.

Faktor lainnya adalah ekonomi. Harga minuman beralkohol dari tahun ke tahun terus naik. Akibat tekanan inflasi global, penghasilan stagnan, dan prioritas hidup yang berubah, minum-minum dianggap tidak esensial. Anak muda sekarang lebih mikir, daripada beli satu botol wine ratusan ribu, mending ikut kelas online, traktir orang tua makan, atau sedekah. Perubahan ini tidak bisa dianggap remeh. Ketika gaya hidup bergeser dan kesadaran naik, industri yang tidak adaptif pasti kena imbas. Dan industri minuman beralkohol adalah salah satunya.

Kemajuan teknologi medis juga mempercepat pergeseran ini. Sekarang, orang bisa cek kondisi liver dan ginjal cuma lewat aplikasi dan hasil lab yang datang lewat WhatsApp. Banyak yang kaget melihat angka-angka hasil pemeriksaan mereka, lalu memutuskan berhenti minum demi umur panjang. WHO juga tidak tinggal diam. Organisasi Kesehatan Dunia secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada batas aman untuk konsumsi alkohol. Artinya, meskipun hanya minum sedikit, tetap berisiko. Pesan ini masuk ke kepala banyak orang, terutama generasi yang lebih peduli pada kesehatan mental dan fisik.

Dan sekarang, kita sudah masuk tahun 2026. Sebentar lagi Ramadhan tiba. Bagi banyak orang, bulan puasa bukan sekadar ibadah, tapi juga momen refleksi dan detox. Tidak hanya dari makanan dan minuman, tapi dari gaya hidup yang tidak sehat. Banyak yang sudah mulai menyusun niat, bahwa Ramadhan tahun ini tanpa rokok, tanpa minuman beralkohol, tanpa begadang, dan lebih banyak sedekah. Menariknya, semangat ini tidak datang dari khutbah Jumat semata, tapi juga dari komunitas, sosial media, bahkan tren gaya hidup urban yang baru. Kini sedekah bukan lagi kegiatan eksklusif orang berduit, tapi jadi tren positif yang relatable bagi semua kalangan.

Jadi, turunnya angka pembelian minuman beralkohol bukan cuma soal data. Ini adalah refleksi dari perubahan cara hidup, cara mikir, dan cara merasa anak-anak muda zaman sekarang. Mereka tidak butuh larangan pemerintah untuk berubah. Mereka hanya butuh alasan yang masuk akal, gaya hidup yang lebih sesuai, dan lingkungan yang mendukung. Dunia mulai sadar bahwa minum-minum bukan lagi simbol kebebasan, tapi bisa jadi beban. Dan makin banyak orang yang beralih ke hal-hal yang lebih sehat, lebih murah, dan lebih memberi makna.

Lucunya, ketika banyak negara mulai panik karena pemas**an dari industri alkohol menyusut, kita justru harusnya bersyukur. Karena ini adalah momen emas buat mendorong lebih banyak perubahan positif. Apalagi di negara seperti Indonesia yang dari dulu udah punya warisan minuman sehat tradisional, seperti jamu, kunyit asam, wedang jahe. Kenapa nggak kita dorong ini jadi gaya hidup masa kini?

Akhirnya, industri minuman beralkohol mungkin sedang menuju masa senjanya. Bukan karena serangan regulasi, tapi karena kesadaran kolektif yang tumbuh dari bawah. Anak muda makin peduli kesehatan, makin melek finansial, dan makin banyak yang sadar, hidup sehat itu lebih keren daripada mabuk. Dan siapa tahu, dalam beberapa tahun ke depan, bukan industri minuman beralkohol yang bersinar, tapi industri matcha, oat milk, dan warung sedekah yang jadi primadona baru. Karena kalau dipikir-pikir, memang sudah saatnya kurangi minum, perbanyak pahala sedekah. Bentar lagi bulan puasa, masa masih mau mabuk?
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

Ruang Belajar Bisnis untuk Bertumbuh.Kelas Pecah Telur hadir sebagai ruang belajar bisnis yang membahas dunia usaha seca...
11/01/2026

Ruang Belajar Bisnis untuk Bertumbuh.

Kelas Pecah Telur hadir sebagai ruang belajar bisnis yang membahas dunia usaha secara lenkap dan ringkas dari digital dan konten, bisnis dan operasional, hingga mindset dan pengembangan diri.

Daftar Kelasnya Sekarang🤗

11/01/2026

Sakit parah sampai putus asa, sempat merasa jadi “istri tak berguna”. Di saat yang sama, mereka juga berani meninggalkan kerja mapan di perusahaan farmasi besar, untuk bangun bisnis bareng dari nol.

Awalnya nggak indah: rugi, stres, jatuh-bangun, sampai rasanya mau nyerah. Tapi pelan-pelan mereka bertahan, membenahi pondasi, dan terus jalan… sampai akhirnya sekarang usaha mereka justru makin besar.

Tonton kisah lengkapnya di YouTube PecahTelur.

11/01/2026

Berawal dari desa, dari kontrakan sempit dan satu mesin sederhana, pasutri ini membangun usahanya tanpa utang bank dan tanpa investor. Dengan modal nekat, kerja keras, dan prinsip hidup yang dijaga, mereka perlahan menumbuhkan bisnis 3D printing dan desain yang kini melayani pesanan B2B dari berbagai daerah.

Di saat banyak usaha memilih jalan cepat lewat pinjaman, mereka justru memilih jalan pelan: setiap omzet diputar kembali, bukan dihabiskan. Dari mesin yang bekerja hampir 24 jam, kegagalan cetak, sampai pengalaman ditipu saat awal pindah ruko—semua dilewati tanpa menyerah.

Hari ini, dari desa, usaha mereka mampu menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan, membuka lapangan kerja, dan membuktikan bahwa bisnis bisa tumbuh dengan cara tenang, sederhana, dan penuh tanggung jawab.

Simak cerita lengkap dari owner hanya dalam episode "Cerita Usaha" di youtube PecahTelur.

Address

Tulungagung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PecahTelur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to PecahTelur:

Share