07/01/2026
“BU, AKU NYASAR TEKAN GUNUNG SLAMET”
Sebuah pesan singkat, disertai foto basecamp pendakian, masuk ke WhatsApp Utari, ibu Syafiq. Pesan itu datang dari Syafiq Ridhan Ali Razan (18), putranya pelajar asal Magelang yang kala itu berada di Gunung Slamet.
Utari terdiam. Ia ingat betul, izin yang diminta anaknya adalah mendaki Gunung Sumbing. Namun kenyataan berkata lain. Bersama rekannya, Himawan, Syafiq justru memilih Slamet, dengan rencana pendakian tektok naik dan turun di hari yang sama.
Jumat, 27 Desember 2025, mereka berangkat. Rencananya, Minggu sore sudah kembali ke basecamp.
Namun Minggu berlalu tanpa kabar.
Telepon Syafiq tak lagi aktif. Kecemasan perlahan berubah menjadi ketakutan. Dhani Rusman, sang ayah, mencari nomor basecamp satu per satu dari internet.
Bambangan bukan. Hingga akhirnya diketahui: Syafiq naik lewat Dipajaya, Pemalang.
“Mungkin ikut ngecamp dengan pendaki lain, Pak,” kata petugas posko. Kalimat itu sedikit menenangkan, tapi juga menyisakan cemas karena Dhani tahu, anaknya tak membawa bekal untuk bermalam.
Senin, 29 Desember 2025, Dhani datang langsung ke posko. Sore harinya, tim rescue bergerak.
Himawan ditemukan lemas di Pos 9. Kakinya terkilir.
Syafiq? Ia pergi lebih dulu turun sendiri, mencari bantuan untuk temannya. Sejak itu, jejaknya hilang.
Seorang ayah ikut naik gunung, memanggil nama anaknya di tengah hutan dan kabut.
“Ali… pulang, Nak…”
Teriakan itu pecah, lalu hilang ditelan lereng Slamet.
Kini, pencarian memasuki seminggu lebih.
Tim SAR menyisir jalur, jurang, hutan belantara, hingga puncak. Hasilnya masih sama: nihil.
Syafiq benar-benar nyasar.
Dan pesan singkat itulah yang menjadi jejak terakhir sebelum semuanya berubah.
Sumber info : Mukh Tarom via mountnesia