14/01/2026
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat perputaran uang dari aktivitas pendakian dan wisata alam di kawasan Rinjani sepanjang tahun 2025 mencapai Rp182.053.372.040. Nilai tersebut berasal dari berbagai aktivitas jasa lingkungan yang berkembang di lingkar kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, mengatakan perputaran uang itu mencakup seluruh ekosistem usaha jasa, mulai dari jasa pemandu (guide), porter, transportasi ojek, penginapan, hingga sektor kuliner dan restoran. Ia menyebut angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Pada tahun 2024 nilai perputaran uang tercatat sekitar Rp109 miliar, sementara pada 2023 sebesar Rp78 miliar. Artinya, jika dibandingkan dengan tahun 2023, ada lonjakan yang luar biasa, bahkan mendekati 300 persen dalam memberikan nilai ekonomi dari aktivitas di Rinjani,” ujar Budhy, Selasa (13/1).
Menurutnya, tren peningkatan nilai ekonomi tersebut dipicu oleh berkembangnya unit-unit usaha jasa di sekitar kawasan Rinjani. Tingginya minat kunjungan wisatawan turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal, seperti porter dan guide, serta menggerakkan sektor pendukung lainnya. “Jadi memang semakin berkembang usaha-usaha jasa yang ada di lingkar Taman Nasional Gunung Rinjani,” ucapnya.
Menanggapi isu komersialisasi kawasan konservasi, Budhy menegaskan bahwa pengelolaan TNGR dilakukan berdasarkan sistem zonasi yang ketat. Ia menjelaskan kawasan konservasi memiliki tiga prinsip utama, yakni perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan.
“Bicara kawasan konservasi tidak hanya soal mengamankan atau perlindungan saja, tetapi ada ruang untuk pemanfaatan berupa jasa lingkungan. Konsep yang kami kembangkan adalah ekowisata,” tuturnya.
Ia menambahkan, TNGR tidak mengambil hasil kayu seperti hutan produksi, melainkan memanfaatkan jasa lingkungan seperti wisata alam, air, dan panas bumi dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem. “Rinjani adalah sumber kehidupan, terutama sebagai penyedia air, yang harus tetap dijaga demi masa depan masyarakat yang terus bertambah,” katanya.
Selengkapnya di insidelombok.id