16/01/2026
[EPS.2] Midnight Carnival - Perebut Suami Orang
Wanita itu selalu berkata dirinya hanya “jatuh cinta”. Ia bilang, jatuh cinta bukanlah pilihan. Orang tidak bisa menolak dengan siapa mereka akan jatuh cinta.
Padahal ia tahu pria itu telah beristri.
Ia tahu ada anak yang menunggu pulang. Ia tahu ada rumah yang perlahan retak, tapi ia tetap masuk, sambil tersenyum. Baginya, air mata istri sah hanyalah bumbu drama. Baginya, kehancuran orang lain hanyalah harga kecil untuk dimenangkan.
Malam itu, ia pulang dengan gaun mahal dan parfum menyengat. Ia berdiri di depan cermin, mengagumi wajahnya sendiri. Lalu lampu kamar berkedip.
Pukul 00.00.
Cermin di depannya memanjang, melengkung, lalu berubah menjadi pintu masuk tenda sirkus. Di lantai, sebuah tiket merah tergeletak begitu saja. Namanya tercetak rapi.
Sorak sorai menyambutnya. Penonton memenuhi kursi, wajah-wajah perempuan dengan mata sembab, tangan gemetar, dan dada berlubang oleh kehilangan. Mereka tidak berteriak. Mereka menatap. Seperti gambaran wanita-wanita di luar sana yang cinta sahnya direbut paksa dari pelukan mereka.
Archie berdiri di tengah arena.
“Selamat datang,” ucapnya lembut.
“Kau s**a mengambil milik orang lain, ya?”
Jeruji menutup di belakang wanita itu. Lampu kuning menyala.
Chloe berlari kecil ke arahnya, tersenyum cerah. Kostum kuningnya ceria, terlalu ceria.
“Kita main peran, ya?” katanya riang.
“Kita main nikah-nikahan.”
Dari lantai, muncul gaun putih mirip gaun pengantin. Chloe memaksanya memakainya. Kain itu langsung mengeras, mengikat lengan dan pinggangnya. Setiap gerakan membuat seratnya menjerat lebih kuat, memotong kulit perlahan.
“Cantik,” puji Chloe sambil bertepuk tangan. “Pantas untuk kau pakai!”
Lampu biru menyala.
Daniel masuk dengan tarian memutar. Setiap langkahnya menggerakkan lantai arena. Cermin-cermin tinggi muncul mengelilingi korban. Di setiap pantulan, wajahnya berubah, kadang menjadi istri sah yang suaminya ia rebut, kadang menjadi anak kecil yang menangis, kadang kembali menjadi dirinya sendiri… namun retak.
Ia lalu mencoba menyentuh cermin itu, tapi tiba-tiba pecah. Serpihannya menancap ke telapak tangannya.
Daniel terus menari. Diiringi erangan kesakitan wanita j*lang itu. Sementara satu persatu cermin terus pecah. D*rah menetes mengikuti irama. Wanita itu meringis, tapi entah kenapa bibirnya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Lampu merah menyala.
Yuki membuka kotak sulapnya. Dari dalam keluar benang-benang merah, halus, berkilau, namun tajam. Benang itu melilit leher dan pergelangan korban, menariknya ke tengah arena.
“Ini benang tak terlihat, tapi mengikat,” kata Yuki lembut.
“Seperti hubunganmu.”
Benang ditarik perlahan. Tidak memutus napas. Hanya cukup untuk membuat setiap tarikan napas terasa seperti kesalahan.
Arena berguncang.
Leo melangkah maju.
Singa jantan itu tidak mengaum. Ia mendekat, mengitari korban yang kini berlutut, tubuhnya terikat gaun yang mengeras, tangan berd*rah oleh cermin.
“Kau memangsa yang lemah,” kata Leo rendah.
“Padahal kau bukan pemburu.”
"Kau bilang hanya berusaha menghibur," tambah Leo dengan amarah. "Padahal kau bukan anggota sirkus!"
Ia menekan bahu wanita itu dengan satu kaki. Tubuhnya terpaksa menunduk. Leo mencakar lantai di depan wajahnya, meninggalkan bekas panjang.
“Di sini,” lanjut Leo,
“yang mencuri akan kehilangan.”
Cakarnya bergerak, bukan ke wajah, melainkan ke cermin terbesar di belakang korban. Sekali hantam, cermin itu runtuh, dan pecahannya jatuh menghujani punggung dan kepala wanita itu. Luka terbuka satu per satu. Tidak fatal. Belum.
Archie kembali melangkah ke tengah.
“Kau mengambil peran orang lain,” katanya tenang.
“Malam ini, peranmu selesai.”
Benang Yuki ditarik.
Gaun Chloe mengencang.
Lantai berhenti bergerak.
Leo menekan sekali lagi, cukup kuat untuk membuat tubuh itu menyerah sepenuhnya.
Wanita itu berteriak, dengan sisa nyawanya.
Lalu lampu pun padam.
Saat lampu menyala kembali, arena bersih. Tidak ada tubuh. Tidak ada darah. Hanya gaun putih robek di tengah arena, kosong, tak bertuan. Di dunia nyata, namanya lenyap. Pesan-pesan berhenti. Nomor tak lagi aktif. Ia tidak m*ti di rumah siapa pun. Ia m*ti di panggung yang memang menunggunya.
Midnight Carnival menurunkan tirai, menunggu target selanjutnya.
Story by: AdityaPrax