22/02/2025
Semua Orang Kena Siksa Kubur? Ustadz Adi Hidayat Berikan Respons yang Mengejutkan, Ilmu Langka
Dalam sebuah ceramah yang penuh makna, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan pandangannya tentang kehidupan setelah kematian, khususnya terkait alam kubur dan siksa yang mungkin dialami seseorang di sana.
Beliau menegaskan bahwa kehidupan setelah wafat itu nyata dan harus diyakini, sebab tanpa keyakinan akan kehidupan setelah kematian, manusia cenderung hanya hidup untuk dunia, tanpa persiapan untuk akhirat.
Dilansir GENMUSLIM dari YouTube ISLAMIC COM, Selasa, 5 November 2024, Ustadz Adi Hidayat membahas bagaimana pemahaman tentang alam kubur dan persiapan akhirat seharusnya menjadi bagian dari iman seorang Muslim.
Menurut Ustadz Adi Hidayat, jika seseorang hidup hanya untuk dunia, ia akan menganggap segala yang dimiliki—dari harta, jabatan, hingga pop**aritas—sebagai tujuan utama.
Hal ini mirip dengan pandangan kaum jahiliyah dulu, yang merasa hidup hanya sekali dan harus dinikmati semaksimal mungkin, tanpa memikirkan akibat di akhirat.
Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, "Dan mereka berkata, ‘Hidup ini hanyalah kehidupan kita di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’
Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah: 24).
Ayat ini menyinggung pandangan yang keliru dari kaum yang menolak kehidupan setelah kematian.
Dalam ceramahnya, Ustadz Adi memberikan analogi yang sederhana namun kuat.
Ia membandingkan perjalanan hidup ini dengan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
"Kalau kita pergi ke tempat yang berbeda, sudah pasti kita butuh bekal yang sesuai dengan tempat tersebut," jelasnya.
Dengan cara yang sama, untuk perjalanan menuju akhirat, seseorang juga harus memiliki bekal khusus berupa amal saleh yang diterima oleh Allah.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa di alam kubur pun berlaku hukum yang berbeda dari dunia.
“Ketika seseorang meninggal dunia, maka semua harta dan fasilitas dunia akan ditinggalkan,” ujarnya.
“Tak ada yang akan masuk ke alam kubur bersama kita selain amal yang kita lakukan.”
Ustadz Adi mengingatkan bahwa seseorang boleh bekerja keras untuk mencapai kesuksesan di dunia, namun niat dan amal harus sejalan dengan nilai-nilai akhirat, sehingga yang didapat bukan hanya kebahagiaan dunia, tetapi juga kedamaian di alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal.
Satu konsep penting yang Ustadz Adi sampaikan adalah bahwa kematian tidak menandai akhir segalanya, melainkan hanya perpindahan ke alam yang berbeda.
"Kita perlu menyadari, alam kubur adalah ruang tunggu sebelum kita memasuki akhirat," jelasnya.
Alam kubur, dalam bahasa Al-Qur’an disebut sebagai barzakh, yang artinya pemisah.
Di sinilah manusia menunggu untuk diadili, apakah ia akan masuk ke surga atau neraka.
Dan inilah yang perlu dipersiapkan oleh setiap Muslim agar bisa menghadapi alam barzakh dengan baik.
Sebagai bentuk persiapan, beliau menekankan pentingnya menjalankan ibadah dengan baik dan sungguh-sungguh.
"Kita perlu menyadari, alam kubur adalah ruang tunggu sebelum kita memasuki akhirat," jelasnya.
Alam kubur, dalam bahasa Al-Qur’an disebut sebagai barzakh, yang artinya pemisah.
Di sinilah manusia menunggu untuk diadili, apakah ia akan masuk ke surga atau neraka.
Dan inilah yang perlu dipersiapkan oleh setiap Muslim agar bisa menghadapi alam barzakh dengan baik.
Sebagai bentuk persiapan, beliau menekankan pentingnya menjalankan ibadah dengan baik dan sungguh-sungguh.
Salat, misalnya, selain mengajarkan kita ketenangan, juga membentuk apa yang disebut nafsul mutmainnah, jiwa yang tenang dan damai.
Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS Al-Fajr: 27-28).
Menurut Ustadz Adi, ketenangan ini tidak hanya berguna di dunia, tetapi juga akan sangat membantu saat seseorang dicabut nyawanya, sehingga ia dapat menjalani alam barzakh dengan tenang.
Tak hanya itu, Ustadz Adi juga menekankan pentingnya amal yang dilakukan secara ikhlas.
Misalnya, seorang ibu yang merawat anaknya dengan kasih sayang, mendidik dengan baik, dan selalu memohon perlindungan dari Allah untuk anak-anaknya.
Semua upaya ini bukan sekadar tanggung jawab duniawi, tetapi juga bisa menjadi bekal akhirat.
Di dalam Al-Qur’an, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, termasuk dalam bentuk pengorbanan di luar medan perang, juga akan mendapatkan pahala di alam kubur.
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali Imran: 169).
Ini menunjukkan betapa luasnya makna perjuangan di jalan Allah, tidak terbatas pada peperangan, tetapi juga mencakup segala kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah.
Di bagian akhir ceramahnya, Ustadz Adi menutup dengan mengingatkan umat untuk selalu menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam doanya, seorang Muslim memohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, sebagaimana tercermin dalam doa yang terkenal: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah: 201).
Ustadz Adi menyebutkan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki, karena ketika manusia berada di sana, ia telah mencapai “ujung dari segalanya,” dimana tidak ada lagi kehidupan setelah itu.
Dengan penjelasan yang mendalam ini, Ustadz Adi Hidayat berharap agar setiap Muslim mampu mempersiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan setelah kematian.
Ia menekankan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan di dunia, sekecil apapun, akan memberikan dampak besar bagi kehidupan di alam barzakh.
Dengan keyakinan yang kuat dan persiapan yang matang, seseorang dapat menghadapi alam kubur dengan ketenangan dan meraih ridha Allah untuk menuju ke surga-Nya.
Semoga bermanfaat 🙏😇
- Reza Syaifullah Kasenda ✍️