
18/09/2023
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ والكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.
Karena shalat itu tidak dinamakan shalat, kecuali karena shalat adalah silah /penghubung antara hamba dan tuhannya. Maka jika seorang hamba memutuskan shalatnya, maka terputuslah hubungan itu.
Andaikan seseorang diperbolehkan meninggalkan sholat, pasti para mujahidin yang memerangi musuh Islam bersama Nabi lebih berhak akan hal itu, Tetapi
Allah memerintahkan mereka melaksanakan sholat dalam berjamaah padahal mereka berada di barisan perang, maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkan sholat atau mengubah dari waktunya dalam keadaan apa pun, tidak dalam keadaan sakit, dalam keadaan berpergian, dalam keadaan ketakutan dan tidak dalam peperangan, dan tidak dalam keadaan apa pun hingga ulama menjelaskan bahwa orang yang tidak mampu melakukan sholat berdiri, maka sholat dengan duduk, dan bila tidak mampu dengan duduk, maka dengan tidur miring, dan jika tidak mampu, maka sholat dengan terlentang dan memberi isyarat dengan kepalanya lalu dengan kedipan mata untuk ruku' dan sujudnya, dan tidak akan gugur kewajiban sholat darinya kecuali dengan kematian atau hilangnya akal.