Ahlussunnah wal jamaah

  • Home
  • Ahlussunnah wal jamaah

Ahlussunnah wal jamaah Al qur'an dan Sunnah di atas pemahaman para salaf .

16/04/2026

Dialah sosok yang jika bukan karena perannya, niscaya Ghazan (cucu Hulagu Khan) akan menyerahkan Baitul Maqdis kepada sekutu Tentara Salibnya!

Dialah pria yang dengan pemikiran dan tekadnya membangun benteng kokoh yang menghalangi penyerahan Baitul Maqdis kepada sekutu Ghazan.

Di saat umat Islam melarikan diri ke Mesir dan Karak, kota-kota Islam di Syam berjatuhan di bawah injakan bangsa Mongol, wanita dan anak-anak Muslim berada dalam genggaman tentara Mongol, serta tentara Mamluk sedang dalam kondisi kekacauan yang nyata. Di tengah keputusasaan dan kelemahan ini, muncullah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mengubah jalannya sejarah.

Hanya dengan keberanian dan iman yang teguh, seorang Ibnu Taimiyah mampu menghentikan sendirian laju invasi Mongol ke dunia Islam. Pada saat itu, orang-orang tidak memiliki pilihan selain melarikan diri. Bahkan Khalifah Abbasiyah, Al-Mustakfi Billah, dan Sultan Mesir, Muhammad bin Qalawun, dilanda ketakutan yang luar biasa. Mereka mengamati langit dengan cemas, menunggu kapan pun tentara Mongol akan memasuki Kairo. Para wanita dan anak-anak di Mesir diungsikan ke gunung-gunung dan bersembunyi di gua-gua. Para tetua berdoa dalam diam, memohon rahmat Allah dari nasib buruk ini, sementara suara-suara yang menyerukan penyerahan negara karena ketidakmampuan melawan penjajah semakin kencang.

Di saat genting inilah Ibnu Taimiyah, sang ulama agung yang tidak mengenal rasa putus asa, berdiri teguh. Ia menguatkan hati Gubernur Syam dan para prajuritnya, serta menjanjikan kemenangan atas Tatar (Mongol). Gubernur dan para amir (pemimpin militer) memintanya pergi ke Mesir untuk mendesak Sultan agar datang membantu. Maka berangkatlah ia ke Mesir.

Di Mesir, Ibnu Taimiyah mendapati Sultan Al-Nashir bin Qalawun dalam keadaan ketakutan. Ia berdiri di hadapan Sultan dan berkata:

"Wahai Sultan, jika seandainya Anda bukan penguasa Syam maupun rajanya, lalu penduduknya meminta pertolongan Anda, maka wajib bagi Anda untuk menolong mereka. Lantas bagaimana jadinya jika Anda adalah penguasa dan sultan mereka, sedangkan mereka adalah rakyat Anda yang akan Anda pertanggungjawabkan?"
Kata-kata Ibnu Taimiyah mulai mengalirkan semangat ke dalam hati Sultan, hingga rasa takut yang melanda sirna. Ia terus membakar semangat Sultan dan rakyat untuk berjihad melawan Tatar. Akhirnya, bala tentara keluar dari Mesir menuju Syam, dan rakyat pun menyambut mereka dengan penuh sukacita.

Ibnu Taimiyah bersumpah di hadapan para amir dan rakyat: "Demi Allah, sesungguhnya kalian dalam serangan kali ini akan menang." Para amir berkata kepadanya: "Katakanlah Insya Allah." Ia menjawab: "Insya Allah sebagai kepastian (tahqiqan), bukan sekadar penggantungan harapan (ta’liqan)."

Pada masa itu, intelijen Tatar menyebarkan fatwa di tengah masyarakat tentang tidak bolehnya memerangi bangsa Tatar karena kali ini mereka menampakkan diri sebagai pemeluk Islam. Ibnu Taimiyah lantas berkata kepada orang-orang:
"Jika kalian melihatku berada di pihak mereka (Tatar) dengan mushaf di atas kepalaku, maka bunuhlah aku!"

Mendengar itu, keberanian rakyat bangkit untuk memerangi Tatar, serta hati dan niat mereka menjadi kuat, walhamdulillah.

Ketika Tatar mulai menyerang dan pasukan Islam sempat terpukul mundur, Ibnu Taimiyah berdiri tegak di atas kudanya, bergerak maju menuju pasukan Tatar yang sangat besar, persis seperti yang dilakukan Nabi ﷺ dalam Perang Hunain. Ia tidak ragu menghadapi pasukan raksasa berjumlah 30.000 personel dengan keberanian yang bersumber dari iman yang dalam. Itu adalah Perang Shaqhab di awal Ramadhan tahun 702 H. Ibnu Taimiyah hadir dengan seluruh kekuatan mental dan fisiknya, mengarahkan prajurit dan mendesak mereka untuk bertahan, siap untuk menjemput syahadah.

Salah satu rekannya, seorang ajudan Amir, menceritakan momen pertemuan kedua pasukan. Ibnu Taimiyah memintanya untuk menempatkannya di "posisi kematian" (titik paling berbahaya). Ketika ajudan itu menempatkannya di depan pasukan Tatar, Ibnu Taimiyah menengadahkan pandangannya ke langit, menggerakkan bibirnya cukup lama dalam doa, lalu menerjang ke medan laga. Ajudan itu menambahkan: "Seolah-olah aku melihatnya sedang mendoakan kehancuran mereka, dan doanya dikabulkan pada saat itu juga. Kemudian kedua pasukan bertempur hebat, dan Allah membukakan kemenangan bagi kami."

Setelah pertempuran usai, rakyat merayakannya dengan membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan memberi makan orang-orang. Hari itu merupakan salah satu hari paling bahagia bagi umat. Saat itulah semua orang menyadari bahwa Ibnu Taimiyah bukan sekadar ulama yang pandai bicara soal agama, melainkan berkat ilmu dan siasatnya, mereka selamat dari bencana yang pasti. Dialah sosok yang seharusnya kita kenal dengan benar, dan jangan sampai sejarahnya dibiarkan terdistorsi atau disesatkan oleh musuh-musuh umat.

Sumber:
• Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, "Al-Bidayah wan Nihayah".
• Ibnu Iyas, "Bada'i' az-Zuhur fi Waqa'i' ad-Duhur".
• Ibnu Taghribirdi, "An-Nujum az-Zahirah fi Muluk Misr wal Qahirah".
• Al-Maqrizi, "Al-Mawa'iz wal I'tibar bi Dzikr al-Khithath wal Atsar".

28/03/2026
02/03/2026

3 Kesalahan dalam berziarah kubur.

01/03/2026

Kekejaman Daulah Turki Ustmani...

Syiah Rofidhoh atau Kaum Yahudi ??
01/03/2026

Syiah Rofidhoh atau Kaum Yahudi ??

01/03/2026

BERDZIKIR SETELAH SHOLAT.....

DENGAN SIRR ( DI LIRIHKAN BACAANNYA )....

atau

DI JAHR ( DI KERASKAN BACAAN NYA ).....??

📖Assyaikh Al muhaddits Muhammad Nashiruddin Al albaniy Rahimahullah.

📝 Pertanyaan ;

Apa makna hadits Ibnu Abbas didalam shahih al-Bukhari :

" Dahulu kami mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir "

Apakah ini bermakna boleh mengeraskan suara ketika berdzikir dan doa setelah shalat lima waktu ?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan .

📝 Jawaban ;

💥 Kami memandang didalam hadits yang shahih ini sebagaimana yang disebutkan oleh

Al Imam Assyafi'i Rahimahullah didalam kitabnya
" Al Umm"

👉 bahwa mengeraskan suara dengan dzikir setelah shalat lima waktu yang dilakukan oleh Rasulullah adalah dalam rangka mengajarkan kepada para sahabat dzikir dzikir yang disyari'atkan setelah shalat ,

Berkata al'Ainiy didalam kitabnya,

" Umdatulqari syarh shahih al-Bukhari "

bahwa didalam hadits tersebut,

👉 terdapat isyarat yang jelas bahwasanya mengeraskan takbir setelah shalat tidak dilakukan terus menerus,

Perkataan beliau ;

" kami mengetahui pada zaman Rasulullah hal itu "

👉 didalamnya terdapat isyarat bahwa apa yang beliau ketahui tidaklah diamalkan terus-menerus,

👉 inilah yang sesuai bersamaan dengan ajaran-ajaran umum didalam Al-Quran dan Assunnah,

yang menganjurkan untuk meredahkan suara disetiap dzikir,

kesesuaian yang paling jelas dengan hadits ini adalah,

👉 hadits abu Sa'id Al Khudri yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al muwatta'

dan Abu Daud didalam kitab Assunnan dan diriwayatkan p**a oleh selainnya dengan sanad yang shahih ;

👉 bahwa Rasulullah mendengar suara- suara dimasjid,

maka beliau menyingkap tirai kemudian mengatakan

☝" wahai manusia setiap kalian bermunajat kepada Rabbnya,

maka janganlah mengeraskan suara ketika membaca "

🎯 Karena yang demikian itu mengganggu kebanyakan orang-orang yang Hadir dimasjid,

Terlebih lagi hal itu ( mengeraskan suara ketika berdzikir)

bersebrangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim didalam shahih keduanya

dari sahabat Abu Musa Al Asy'ari Radhiallahu Anhu

👉 " dahulu kami melakukan safar (perjalanan) bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,

ketika kami mendaki gunung kami mengeraskan suara dengan bertakbir,

ketika kami turun ke suatu lembah kamipun mengeraskan suara dengan bertasbih"

📒 maka Rasulullah mengatakan;

"

wahai sekalian manusia kasihanilah diri kalian ,

👉 yang kalian seru bukanlah Dzat yang tidak mendengar dan tidak hadir,

👉 yang kalian seru adalah Dzat yang maha mendengar lagi maha melihat,

👉 kalian menyeru Dzat yang lebih dekat dengan salah seorang dari kalian dari leher tunggangannya kepadanya "

☝ Yang menjadi bukti hal ini adalah ucapan beliau shalallahu alaihi wasallam:

اربعوا على أنفسكم

" Kasihanilah diri kalian "

👉 Maka bukanlah termasuk hikmah membikin lelah diri kalian dengan mengeraskan suara ketika berdzikir kepada Rabb kalian.

Kejadian diatas Ketika mereka di Padang pasir,

maka bagaimana menurut kalian jika dimasjid

Dan ini terbukti sebagaimana yang kita saksikan selalu,

sebagian orang yang masbuq satu Raka'at atau lebih,

ketika manusia mengeraskan dzikir tidak diragukan lagi mereka terganggu,

🚨Oleh karena inilah Rasulullah secara jelas menyebutkan didalam hadits abu Sa'id yang lalu penyebutannya;

❌ janganlah sebagian kalian atas sebagian yang lain mengeraskan bacaannya,

dan Imam Al Baghawi dan yang lainnya menyebutkan tambahan

👉 " maka kalian akan mengganggu kaum mukminin "

💥 maknanya;

kalian akan mengganggu kaum mukminin dengan mengeraskan bacaan dzikir,

🎯 tidaklah yang demikian itu melainkan mengganggu ketenangan orang yang membaca,

berdzikir dan orang yang masbuq dari kalangan orang-orang yang shalat.

Alih bahasa; 📚
Abu fudhail Abdurrahman Ibnu 'Umar حفظه الله

Sumber; 💿
https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=45681

Website; 🌍
Salafiycurup.com

Telegram.me/salafycurup

08/01/2026

🍎💐 *SEDEKAHKANLAH SEBAGIAN HARTAMU, NISCAYA BERMANFAAT DI AKHIRATMU*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

▪️ Fadhiilatul'allāmah Shālih Bin Fauzān Al-Fauzān Hafizahullāhu Ta'ālā pernah berkata:

بعض الناس يجمع المال ويقول : أُؤَمِّن به مستقبلي ، يعني مستقبله الدّنيويّ ، وهو لا يدري هل يعيش مُستقبلا يتمتّع فيه بهذا المال أو يموت ويتركه لغيره، لكنّه لا يفكّر في تأمين مستقبله الذي لا بدّ له منه في الدّار الآخرة بأن يُقَدّم من ماله مايجده مُدّخراً مضاعفاً أضعافًا كثيرة، وهو أحوج ما يكون إليه

"Sebagian orang mengumpulkan harta dan berkata, "aku mengumpulkan harta agar masa depanku aman", maksudnya masa depan dunianya,

padahal dia sendiri tidak tahu apakah dia masih hidup untuk menikmati harta yang dia tumpuk itu di kemudian hari, ataukah dia meninggal sehingga harta yang dia kumpulkan tadi ia tinggalkan untuk (dinikmati oleh) selainnya.

Akan tetapi dia malah tidak memikirkan keamanan masa depannya yang pasti akan dia alami, yaitu di negeri akhiratnya.

Dengan cara menyedekahkan sebagian harta yang dia kumpulkan tadi, sehingga pahalanya akan dia dapati berkali-kali lipat lebih banyak di hari (akhiratnya), terlebih lagi di saat itulah ia sangat membutuhkannya."

📚 Al-Khutabul Minbariyah (04, hal.126/Dārul'āshimah)

🌐 t.me/fawayidalfawzan/1796

• • • •
📝 Tim Admin Hikmah Salafiyyah: Abu Ahmad Playen hafizhahullah

🌐 https://t.me/hikmahsalafiyyah

📡📻 Dengarkan Kajian Islam dan Murotal al-Qur'an setiap saat di Radio Islam Indonesia (Versi Baru) AplikasiRadioIslamIndonesia2

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️ #

Address


Telephone

+6281384301513

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ahlussunnah wal jamaah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Ahlussunnah wal jamaah:

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share