14/05/2024
Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko saya.
Masih penuh gerobaknya, buah-buah
tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku
kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun
dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan
blm berhenti.
Saya mulai risau karena sepi tak ada
pembeli datang.
Saya keluar memberikan air minum.
"Kalau musim hujan jualannya repot juga ya,
Pak... " .. "Mana masih banyak banget."
Beliau tersenyum, "Iya bu..
Mudah-mudahan ada rejekinya..."
jawabnya.
"Aamiin," kataku.
"Kalau gak abis gimana, Pak?" tanyaku.
"Kalau gak abis ya risiko, Bu.., kayak
semangka, melon yang udah kebuka ya
kasih ke tetangga, mereka juga seneng
daripada kebuang. kayak bengkoang,
jambu, mangga yang masih bagus bisa
disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai
sedekah," katanya tersenyum.
"Kalau hujan terus sampai sore gimana,
Pak?" tanyaku lagi.
"Alhamdulillah bu... Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau
hujan waktu mustajab buat berdoa bu..."
Katanya sambil tersenyum.
"Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki,
Bu..."
"kalau gak dapet uang gimana, Pak?"
tanyaku lagi.
"Berarti rejeki saya bersabar, Bu... Allah
yang ngatur rejeki, Bu... Saya bergantung
sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang
Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi
Alhamdulillah, saya jualan rujak belum
pernah kelaparan.
"Pernah gak dapat uang sama sekali,
tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita
hidup cari apa Bu, yang penting bisa
makan biar ada tenaga buat ibadah dan
usaha," katanya lagi sambil memasukan
Alqurannya ke kotak di gerobak.
"Mumpung hujannya rintik, Bu... Saya bisa
jalan..Makasih yaa,Bu..."
"Saya terpana... Betapa malunya saya,
dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang,
begitu khawatirnya rejeki materi tak
didapat sampai mengabaikan nikmat yang
ada di depan mata.
Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat
beribadah, dapat bersyukur dan bersabar
adalah jauh...jauh lebih berharga daripada
uang, harta dan jabatan..