17/03/2023
NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Polisi masih memburu belasan pelaku pengeroyokan Jamaludin, 58, warga Desa Blongko, Kecamatan Ngetos kemarin. Meski telah meringkus enam tersangka tetapi polisi menganggap masih banyak pengeroyok yang belum tertangkap. Saat ini, mereka dianggap bersembunyi. “Pelaku pengeroyokan itu ada belasan hingga puluhan orang,” ujar Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP I Gusti Ananta Pratama.
Untuk itu, enam tersangka, yaitu Agus Setyono, kasun; Slamet, ketua RT; Riski Galeh Saputro, 27, M. Budi Utomo, 28, M. Sirojul Munir, 47, dan M. Ibnu Mundir, 22, keempatnya warga Desa Blongko masih diperiksa intensif. Diharapkan, mereka mau membuka mulut untuk menyebutkan siapa pelaku yang ikut mengeroyok Jamaludin hingga tewas pada Sabtu (11/3).
Selain mengorek keterangan dari enam tersangka, polisi juga meminta keterangan saksi-saksi. Rekaman closed circuit television (CCTV) juga dipelototi. Karena di rekaman CCTV milik warga itu terlihat banyak orang melakukan pengeroyokan kepada Jamaludin yang tepergok mencuri kambing milik Painah, 70, warga setempat.
Kasatreskrim asal Pulau Dewata ini berharap, pelaku pengeroyokan kepada Jamaludin untuk menyerahkan diri secepatnya. Jangan sampai melarikan diri. Karena polisi akan bertindak tegas. Jika tertangkap saat menjadi buronan, ancaman hukumannya juga akan lebih berat.
Untuk enam tersangka pengeroyokan yang telah ditangkap, Gusti mengatakan, mereka akan dijerat pasal 170 ayat 2 KUHP. Di dalam pasal tersebut disebutkan jika pelaku pengeroyokan yang menyebabkan matinya seseorang diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. Karena itu, semua tersangka langsung ditahan di Mapolres Nganjuk. “Semoga tersangka jera,” harapnya.
Sementara itu, Saiful, 47, warga Desa Blongko mengatakan, pengeroyokan itu terjadi karena warga Desa Blongko sering menjadi korban pencurian. Berdasarkan hitungannya, ada 21 ekor kambing warga hilang. Kemudian, ada tiga sepeda motor juga lenyap. “Ciri-ciri pencuri itu seperti Jamaludin,” ujarnya.
Dugaan Jamaludin sebagai pencuri semakin menguat saat dia tepergok beraksi pada Sabtu (11/3). Sehingga, tanpa ampun, warga akhirnya mengeroyok dan membakar sepeda motor Honda Kalong milik Jamaludin.
Terpisah, Suntamah, 39, anak Jamaludin masih tidak percaya jika bapaknya adalah pencuri kambing dan motor yang meresahkan warga setempat. Karena selama ini, dia tidak berhubungan dengan ayahnya. Bahkan, dia menganggap ayahnya ada di Semarang. Setelah bercerai, Jamal kabarnya tinggal di Semarang. Dia hanya berkunjung ke Desa Blongko beberapa kali. “Harusnya dicari tahu kebenarannya atau diserahkan ke polisi. Tidak dikeroyok,” ujarnya.
Suntamah mengatakan, untuk kasus yang dialami Jamaludin tersebut, dia menyerahkan sepenuhnya kepada polisi. Semua proses hukum diserahkan kepada pihak yang berwajib. Dia juga mengaku sudah ikhlas dengan kematian sang ayah.
Saat ini, Suntamah berharap, kejadian itu tidak membuat hubungan baik dia dan tetangga terganggu. Dia ingin semua kembali kondusif. Apalagi, dalam kasus ini, dia juga tidak tahu apa-apa.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP I Gusti Agung Ananta mengatakan, jenazah Jamaludin telah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat. Pihaknya menyerahkan ke keluarga setelah jenazah diotopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk. “Berdasarkan hasil otopsi korban meninggal dunia karena dikeroyok. Banyak luka di sekujur tubuhnya,” ujarnya.
Gusti berharap, perbuatan main hakim di wilayah hukum Polres Nganjuk tidak terulang. Dia ingin kasus yang menimpa Jamaludin adalah yang terakhir. Setiap persoalan hukum harus diselesaikan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. “Tidak boleh main hakim sendiri,” ingatnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Reporter: Andhika Attar Anindita
Reporter: Karen Wibi
Sumber: https://radarkediri.jawapos.com/