30/12/2025
Pandji Anom Aktor Legendaris Asli Biak Sambas
Raden Mashud Pandji Anom (lahir Sambas, Kalimantan Barat 3 April 1915 โ wafat Jakarta 25 Februari 1990) adalah seorang aktor kondang berkebangsaan Indonesia dari Sambas, Kalimantan Barat.
Sebelum terjun ke dunia perfilman, Pandji Anom lebih dulu berkecimpung dalam dunia tarik suara dan sandiwara. Pada awal tahun 1937, ia memulai kariernya sebagai penyanyi keroncong di Batavia. Pada tahun 1941, ia diberi kesempatan oleh perusahaan Java Industrial Film untuk main dalam film Elang Darat.
Setelah Jepang mulai menduduki wilayah Hindia Belanda (sekarang Indonesia), ia bersama Andjar Asmara memimpin rombongan penari mendirikan sandiwara Matahari yang kemudian diganti nama menjadi Tjahaja Timur. Setelah keluar dari sandiwara Tjahaja Timur, ia mendirikan sandiwara baru Pantja Warna (1943).
Tahun 1950 bersama Djamaluddin Malik dan rekan lain mendirikan perusahaan Persari Film. Lalu pada 1953, ia mendirikan Borobudur Film sebagai Produser bersama H Nawi Ismail dan istrinya, Komalasari.
Lahir di Sambas, Kalimantan Barat, 3 April 1915, Raden Panji Anom dikenal juga dengan nama Pangeran Mas'ud Panji Anom. Dia putra bangsawan Kesultanan Sambas.
Anak kedua pasangan Pangeran Cakra Panji Anom, turunan langsung Sultan Sambas, dan Encik Zakiyah ini menempuh pendidikan di HIS, kemudian melanjutkan ke Ambacht School (sekolah teknik) di Batavia (Jakarta) pada 1933. Dia juga pernah mengikuti kursus montir radio (1935).
Sejak usia dini, Panji Anom telah menunjukkan minat terhadap bidang seni. Sebelum terjun ke dunia perfilman, Panji Anom lebih dahulu berkecimpung dalam dunia tarik suara dan sandiwara. Pada awal 1937, lelaki berkaca mata ini memulai karier sebagai penyanyi keroncong di Jakarta.
Kepiawaiannya menyanyi keroncong diperoleh dari belajar musik dan menyanyi keroncong selama dalam masa persembunyian di Jawa Barat. Dia lantas menjadi juara menyanyi sebuah lomba di Singapura ketika terdampar di sana. Suaranya kemudian direkam oleh perusahan piringan hitam Cap Ayam di Singapura.
Pada 1941, sepulang merekam lagu di Singapura, dia diberi kesempatan oleh perusahaan Java Industrial Film untuk berakting di film "Elang Darat" (1941).
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), dia aktif di Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta.
Selain itu, bersama Andjar Asmara, ia memimpin rombongan penari dan mendirikan grup sandiwara Matahari yang kemudian diganti nama menjadi Tjahaja Timur. Setelah keluar dari grup sandiwara Tjahaja Timur, dia mendirikan grup sandiwara baru Pantja Warna (1943).
Sesudah Indonesia Merdeka, Panji Anom kembali mengikuti grup sandiwara yang dipimpin Djamaludin Malik (1917-1970). Selanjutnya pada tahun 1950, bersama Djamaluddin Malik, ia mendirikan perusahaan Film Persari.
Tahun 1953, Panji Anom bersama istrinya, Komalasari, dan H Nawi Ismail berkolaborasi mendirikan Borobudur Film.
Sebagai aktor, tercatat Panji Anom telah membintangi puluhan judul film. Aktingnya yang paling menonjol yakni dalam film Tamu Agung (1955), yang disutradarai Usmar Ismail.
Pada 1980, namanya semakin berkibar setelah memerankan tokoh Pak Suwito, suami aktris Mieke Wijaya, dalam serial Rumah Masa Depan.
Hingga kini, aktingnya masih bisa disaksikan di film komedi Warkop DKI bersama Dono, Kasino, Indro, yaitu film Mana Tahan (1980), Gengsi D**g (1980), GeEr - Gede Rasa (1980), Chips (1982), dan Malu-Malu Mau (1988).
Film Malu-Malu Mau (1988) sekaligus menutup filmografi Panji Anom. Kesetiaannya pada dunia film membuatnya terpilih sebagai penerima piagam Kesetiaan Profesi pada 1989.
Berselang setahun kemudian setelah menerima penghargaan tersebut, tepatnya pada 25 Februari 1990, Raden Mas'ud Panji Anom wafat di Jakarta.
Sumber : RRI (Boyke Sinurat)
Video Youtube : Angry Risdiani