Buletin Losari

  • Home
  • Buletin Losari

Buletin Losari Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Buletin Losari, News & Media Website, .

Buletin Losari adalah media berbagi ide, gagasan, kreatifitas, dan berbagai hal lainnya yang segar serta menghibur bagi pembaca, juga sebagai wadah bagi para penulis lokal yang ingin menerbitkan tulisannya secara kolektif.

“Ngarepna Apa?” – Jeritan Sunyi dari Laut yang TerlupakanDi sebuah sudut ruang galeri yang temaram, instalasi karya Rizk...
16/06/2025

“Ngarepna Apa?” – Jeritan Sunyi dari Laut yang Terlupakan

Di sebuah sudut ruang galeri yang temaram, instalasi karya Rizki Maulana berdiri seperti monumen diam dari ekosistem yang terluka. Berjudul “Ngarepna Apa?”—bahasa Jawa untuk “Mengharapkan Apa Lagi?”—karya ini menyuarakan keresahan ekologis dari para nelayan tradisional yang hidupnya perlahan tergulung krisis iklim dan eksploitasi laut berlebihan.

Terinspirasi dari pengalaman langsung di pesisir Jawa, Rizki merespons hilangnya sumber penghidupan nelayan melalui simbol-simbol yang akrab namun sarat makna. Jaring bekas dibentuk menyerupai kelambu besar, menciptakan ruang imersif yang menjerat penonton dalam kesunyian yang penuh makna. Tumpukan bantal pelampung yang kehilangan fungsi mengapung, serta bendera kecil yang seolah kehilangan klaim, menjadi metafora dari harapan kosong dan keterasingan.

Karya ini menggunakan pendekatan site-specific installation dan mengandalkan material bekas seperti jaring, tali tambang lapuk, dan lampu temaram berwarna biru. Nuansa warna netral—putih kusam, abu, dan coklat lumpur—menegaskan tema keterbatasan, keusangan, dan pesimisme.

Lebih dari sekadar karya seni, “Ngarepna Apa?” adalah dokumentasi visual tentang keterputusan manusia dengan laut. Sebuah pengingat bahwa laut bukan hanya sumber daya, tapi ruang hidup yang kini sedang sekarat.

Dengan bimbingan Dr. I Gede Arya Sucitra dan dokumentasi visual dari Muhammad Imam Bawon, instalasi ini bukan hanya karya estetika, tapi juga testimoni sosial. Sebuah pertanyaan yang menggugah: Jika laut telah kehilangan maknanya bagi nelayan, lalu kita, mengharapkan apa lagi?



repost : .studio

Etika Menjaga Lingkungan Hidup dalam Perspektif Islam: Tanggung Jawab Generasi MudaOleh : DawudMengapa Etika Lingkungan ...
04/05/2025

Etika Menjaga Lingkungan Hidup dalam Perspektif Islam: Tanggung Jawab Generasi Muda

Oleh : Dawud

Mengapa Etika Lingkungan Penting Bagi Generasi Muda?

Di tengah krisis iklim global dan degradasi lingkungan yang semakin parah, etika lingkungan menjadi prinsip penting yang harus dipahami dan diterapkan oleh setiap individu, khususnya generasi muda. Bagi umat Islam, menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi amanah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk merawat ciptaan-Nya. Namun, masih banyak yang bertanya: Bagaimana cara menerapkan etika menjaga lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari? Artikel ini akan membahasnya dengan pendekatan Islam yang relevan bagi pembaca usia 20–30 tahun.

Etika Lingkungan dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, konsep etika lingkungan: etika lingkungan menurut ajaran Islam) tercermin dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits. Allah SWT berfirman:

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini menegaskan larangan keras untuk merusak lingkungan. Rasulullah SAW juga memberikan teladan bagaimana menjaga alam: tidak menebang pohon sembarangan, tidak mencemari air, dan selalu menghindari mubazir.

Apa saja prinsip etika lingkungan menurut Islam?

Prinsip utama dalam etika lingkungan Islam antara lain:

1. Tanggung jawab (Amanah): Setiap individu bertanggung jawab menjaga bumi.

2. Keadilan ('Adl): Mengelola sumber daya alam secara adil dan tidak eksploitatif.

3. Keseimbangan (Mizan): Menjaga keseimbangan ekosistem dan makhluk hidup lainnya.

Praktik Nyata Etika Lingkungan oleh Komunitas Muslim

Di berbagai belahan dunia, banyak komunitas Muslim yang telah menerapkan etika lingkungan dengan luar biasa. Salah satu contoh inspiratif datang dari Green Mosque Campaign di Jakarta.

Masjid-masjid yang tergabung dalam kampanye ini mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan energi surya, dan mengadakan kajian rutin tentang lingkungan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam pelestarian lingkungan.

Kampanye dan Aksi Nyata: Gerakan Hijau untuk Generasi Muda

Bagi Anda yang berusia 20–30 tahun, ada banyak cara menerapkan etika lingkungan:

1. Mengikuti Gerakan Eco-Jihad
Gerakan ini mengajak pemuda Muslim untuk bertindak nyata dalam merawat bumi. Mulai dari menanam pohon, membersihkan sampah di tempat umum, hingga membuat program daur ulang di kampus atau komunitas.

2. Dukung Produk Ramah Lingkungan
Transactional keyword: beli produk ramah lingkungan Jakarta
Pilihlah produk yang memiliki sertifikasi hijau, tidak merusak lingkungan, dan mendukung produsen lokal. Dengan membeli produk berkelanjutan, Anda ikut menerapkan etika lingkungan dalam aspek konsumsi.

3. Sebarkan Kesadaran Melalui Media Sosial
Gunakan kekuatan media sosial untuk berbagi edukasi tentang etika menjaga lingkungan hidup, baik dari perspektif ilmiah maupun nilai-nilai Islam.

Generasi Muda, Saatnya Bangkit Menjadi Penjaga Bumi

Sebagai generasi muda yang akan mewarisi bumi, Anda memiliki peran krusial dalam memastikan kelestarian lingkungan hidup. Etika lingkungan bukan hanya konsep teoritis, melainkan gaya hidup yang mencerminkan keimanan dan kepedulian terhadap makhluk Allah SWT.

"Barang siapa yang menanam pohon, maka setiap buah yang dimakan oleh manusia, burung, atau hewan lainnya menjadi sedekah baginya." (HR. Ahmad)

Mari mulai dari langkah kecil: kurangi plastik, hemat air, dan ajak teman serta keluarga memahami pentingnya etika menjaga lingkungan hidup. Dengan begitu, Anda tidak hanya berkontribusi untuk kelestarian bumi, tetapi juga mengumpulkan pahala yang terus mengalir.

Pertanyaan untuk Anda:
Sudahkah Anda menerapkan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari? Jika belum, langkah apa yang akan Anda mulai hari ini?

Harimau jenis Panthera pardus atau macan kumbang tutul penunggu gunung Arjuno Malang tertangkap oleh penduduk dalam kead...
07/11/2024

Harimau jenis Panthera pardus atau macan kumbang tutul penunggu gunung Arjuno Malang tertangkap oleh penduduk dalam keadaan mati pada tahun 1912.

Saksikan Pentas Drama “Mardiyah: Juragan Rentenir” oleh UKM Sanggar Seni Teater Awal Cirebon!Nikmati kisah penuh emosi d...
07/11/2024

Saksikan Pentas Drama “Mardiyah: Juragan Rentenir” oleh UKM Sanggar Seni Teater Awal Cirebon!
Nikmati kisah penuh emosi dan nilai kehidupan dalam produksi ke-70 ini, karya penulis dan sutradara berbakat Yandika M. Fauzi. Pertunjukan ini akan berlangsung selama 6 hari berturut-turut, dari 4 hingga 9 November 2024, di Gedung Kesenian Rarasantang, Kota Cirebon.

Saksikan Pentas Drama “Mardiyah: Juragan Rentenir” oleh UKM Sanggar Seni Teater Awal Cirebon! Nikmati kisah penuh emosi dan nilai kehidupan dalam produksi ke-70 ini, karya penulis dan sutradara berbakat Yandika M. Fauzi. Pertunjukan ini akan berlangsung selama 6 hari berturut-turut, dari 4 hingg...

Saksikan Pentas Drama “Mardiyah: Juragan Rentenir” oleh UKM Sanggar Seni Teater Awal Cirebon!Nikmati kisah penuh emosi d...
07/11/2024

Saksikan Pentas Drama “Mardiyah: Juragan Rentenir” oleh UKM Sanggar Seni Teater Awal Cirebon!

Nikmati kisah penuh emosi dan nilai kehidupan dalam produksi ke-70 ini, karya penulis dan sutradara berbakat Yandika M. Fauzi. Pertunjukan ini akan berlangsung selama 6 hari berturut-turut, dari 4 hingga 9 November 2024, di Gedung Kesenian Rarasantang, Kota Cirebon.

Baca selengkapnya
https://buletinlosari.com/liputan/duwe-gawe/mardiyah-juragan-rentenir-pentas-produksi-ke-70-teater-awal-cirebon/

Belasan Pasangan Bukan Suami Istri Terjaring Razia di BrebesSebanyak 15 pasangan bukan suami istri terjaring razia gabun...
26/09/2024

Belasan Pasangan Bukan Suami Istri Terjaring Razia di Brebes

Sebanyak 15 pasangan bukan suami istri terjaring razia gabungan yang digelar oleh Satpol PP Brebes dan Polisi Militer pada Rabu malam, 25 September 2024. Razia ini berlangsung di dua hotel yang terletak di sepanjang Jalan Pantura Brebes.

Salah satu hotel yang menjadi sasaran razia adalah hotel di pinggir Jalan Raya Pantura Cimohong. Tim gabungan menyisir setiap kamar hotel, memeriksa identitas para tamu satu per satu. Para tamu juga diminta untuk menunjukkan surat nikah, terutama bagi mereka yang kedapatan bersama pasangan di dalam kamar.

Hasilnya, banyak tamu hotel yang tidak bisa menunjukkan identitas sebagai pasangan suami istri. Belasan pasangan tersebut akhirnya digiring ke truk oleh petugas untuk dibawa ke kantor guna pemeriksaan lebih lanjut.

Yang mengejutkan, sebagian besar tamu bukanlah orang luar kota yang menginap untuk beristirahat, melainkan warga setempat. Salah satu tamu yang terjaring razia bahkan masih mengenakan peci dan sarung, mengaku pamit kepada keluarganya untuk menghadiri tahlilan menggunakan sepeda motor.

Foto: Istimewa
Sumber : Radar Tegal

PASIR vs SEDIMEN: Menelusuri Jejak Geologi di Paparan SundaPaparan Sunda, wilayah laut dangkal yang mencakup perairan Ri...
25/09/2024

PASIR vs SEDIMEN: Menelusuri Jejak Geologi di Paparan Sunda

Paparan Sunda, wilayah laut dangkal yang mencakup perairan Riau, Teluk Thailand, perairan Natuna, serta perairan utara Jawa dan selatan Kalimantan, menyimpan harta geologi yang kaya dan menarik. Pasir yang teronggok di dasar laut dangkal ini bukanlah hasil sedimentasi dari sungai-sungai yang mengalir ke laut saat ini, melainkan merupakan warisan dari masa lalu yang jauh, ketika Paparan Sunda masih menjadi daratan sekitar 20.000 hingga 10.000 tahun yang lalu.

Pasir Purba Paparan Sunda

Pasir-pasir yang ditemukan di tengah laut dangkal Paparan Sunda saat ini adalah hasil pengendapan dari sungai-sungai purba yang mengalir di daratan Paparan Sunda pada masa Pleistosen akhir hingga awal Holosen. Pada masa tersebut, permukaan laut jauh lebih rendah dibandingkan saat ini, sehingga Paparan Sunda menjadi daratan luas yang dilalui oleh sungai-sungai besar. Pasir-pasir ini terendapkan di dasar sungai purba dan tersimpan hingga saat ini di dasar laut.

Pengendapan Sedimen Saat Ini

Sungai-sungai besar yang masuk ke laut dangkal Paparan Sunda saat ini, sejak sekitar 10.000 tahun yang lalu (periode Recent), hanya mengendapkan lumpur, lempung, dan lanau dari suspensi, terutama saat terjadi banjir besar yang terjadi setiap 5-10-25 tahun sekali. Material-material ini tidak memiliki karakteristik yang sama dengan pasir dan tidak dapat digunakan sebagai bahan utama untuk pengurukan pantai karena sifatnya yang mudah terdilusi dan terabrasi oleh ombak.

Penambangan Pasir Purba

Aktivitas penambangan pasir di tengah laut dangkal Paparan Sunda saat ini sebenarnya mengekstraksi pasir-pasir purba yang telah terendapkan ribuan tahun yang lalu. Pasir-pasir ini memiliki ukuran butir antara 1/16 hingga 2 mm, yang sangat ideal untuk keperluan pengurukan pantai. Selain itu, pasir-pasir ini juga sering mengandung butir-butir emas plaser (placer-gold) dan mineral-mineral berat lainnya yang menjadi host dari unsur tanah jarang (rare-earth elements).

Implikasi Terhadap Pendangkalan Muara Sungai

Penambangan pasir di tengah laut dangkal Paparan Sunda tidak memiliki hubungan langsung dengan fenomena pendangkalan muara sungai pada masa kini. Pendangkalan muara sungai lebih dipengaruhi oleh sedimentasi lumpur, lempung, dan lanau yang diangkut oleh sungai-sungai saat ini, terutama selama peristiwa banjir. Oleh karena itu, kekhawatiran bahwa penambangan pasir di laut dangkal akan menyebabkan pendangkalan muara sungai tidak berdasar.

---

Pasir-pasir yang ditambang di tengah laut dangkal Paparan Sunda adalah warisan geologi dari masa lalu yang kaya akan sejarah dan nilai ekonomi. Aktivitas penambangan ini tidak mempengaruhi pendangkalan muara sungai saat ini karena material yang diendapkan oleh sungai-sungai modern berbeda dengan pasir purba. Dengan memahami asal-usul dan karakteristik sedimen di Paparan Sunda, kita dapat lebih bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam ini untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Salam Geologi,

Ditulis dan diunggah oleh Andang Bachtiar pada 25 September 2024
Diedit oleh : Arya

Buku "Sawitri Penari Topeng Losari"Penulis : Juju MasunahTahun terbit : 2000Penerbit : TarawangBuku "Sawitri Penari Tope...
21/09/2024

Buku "Sawitri Penari Topeng Losari"

Penulis : Juju Masunah
Tahun terbit : 2000
Penerbit : Tarawang

Buku "Sawitri Penari Topeng Losari" mengisahkan perjalanan hidup seorang seniman yang berdedikasi dalam melestarikan budaya tari topeng Losari. Sawitri, yang tumbuh dalam keluarga pelestari seni, menjadikan tari topeng bukan sekadar hiburan, tetapi medium penyampaian pesan moral dan kearifan lokal. Dalam buku ini, pembaca diajak menyelami peran penting Sawitri dalam melibatkan generasi muda, menghadapi tantangan modernisasi, dan mempromosikan seni topeng hingga ke panggung nasional.

Dengan gaya penulisan yang lugas dan penuh informasi, buku yang ditulis oleh Juju Masunah ini memberikan wawasan mendalam tentang seni tradisional Jawa, sekaligus menginspirasi pembaca untuk terus menjaga warisan budaya yang berharga. Sawitri adalah simbol ketahanan budaya lokal di tengah arus perubahan zaman, dan buku ini menjadi bukti nyata dari peran penting seorang seniman dalam menjaga identitas sebuah komunitas.

Penasaran?

“Melawan Api Dengan Api” Wujudkan Solidaritas Melawan Kerusakan LingkunganCirebon, 21 September 2024 – Suara perlawanan ...
21/09/2024

“Melawan Api Dengan Api” Wujudkan Solidaritas Melawan Kerusakan Lingkungan

Cirebon, 21 September 2024 – Suara perlawanan dan solidaritas menggema di sepanjang Sungai Cisanggarung setelah acara Melawan Api Dengan Api yang digelar pada Jumat, 20 September 2024, di Mene Coffee, Ciledug, Cirebon. Acara ini berhasil mengumpulkan warga, aktivis, dan seniman dalam upaya kolektif untuk menghadapi ancaman industrialisasi dan krisis sosial-ekologis yang terus mengancam ruang hidup di kawasan tersebut.

Dimulai sejak sore, lapak zine menjadi pusat interaksi publik yang hangat. Berbagai karya literasi alternatif disajikan dan menarik perhatian banyak peserta. Karya-karya tersebut tak hanya menjadi medium penyampaian kritik sosial, namun juga membangkitkan kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan lingkungan dan perjuangan rakyat.

Puncak acara adalah Rembug Warga Cisanggarung yang berlangsung dari pukul 19.30 hingga 21.30 WIB. Diskusi ini dipandu oleh Tim Peneliti dari SALAM Institute yang mengupas ancaman industrialisasi di sepanjang Sungai Cisanggarung serta dampaknya terhadap ekologi dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Diskusi tersebut menghadirkan data dan fakta yang mengejutkan, memperlihatkan bagaimana alih fungsi lahan dan pencemaran sungai telah berdampak buruk pada kesejahteraan warga sekitar. Para peserta secara aktif menyampaikan kekhawatiran mereka dan berbagi solusi untuk mengatasi krisis ini.

Acara berlanjut dengan penampilan musik Hip Hop yang menggairahkan suasana. Penampilan dari BREAKADAWN, TWNTY8C, BAIT, dan MWP mengobarkan semangat para hadirin. Lagu-lagu yang mereka bawakan membawa pesan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan lingkungan, menyatukan semangat perjuangan melalui seni. Para peserta larut dalam penampilan energik yang mengangkat tema solidaritas dan perlawanan.

Sebagai penutup, aksi Razia Lapar diadakan pada pukul 23.00 WIB, mengingatkan bahwa perjuangan tidak berhenti di panggung, tetapi juga dalam aksi nyata di kehidupan sehari-hari. Aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap kelaparan dan ketidakadilan ekonomi yang masih banyak dialami masyarakat.

Acara Melawan Api Dengan Api berhasil membangkitkan kesadaran kolektif dan memperkuat ikatan solidaritas di antara warga. Semangat perlawanan terhadap kerusakan lingkungan dan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat terus berlanjut, menjadi panggilan bagi semua untuk menjaga bumi dan ruang hidup bersama.

/JM

Rembug Pesisir: Ekspos Data Hasil Riset di Desa TawangsariCirebon, 21 September 2024 — Sekolah Riset Ekologi SALAM Insti...
19/09/2024

Rembug Pesisir: Ekspos Data Hasil Riset di Desa Tawangsari

Cirebon, 21 September 2024 — Sekolah Riset Ekologi SALAM Institute akan menggelar acara Rembug Pesisir di Balai Desa Tawangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Acara yang terbuka untuk umum ini akan dilaksanakan pada Sabtu, 21 September 2024, mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai.

Tema acara ini adalah "Kehidupan di Tepi Pesisir Tawangsari," yang akan mengungkap data hasil riset yang dilakukan oleh Tim Riset Desa Tawangsari. Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih dalam kondisi ekologi, sosial, dan ekonomi masyarakat pesisir, serta memberikan rekomendasi untuk pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Acara ini diharapkan menjadi wadah diskusi antara para peneliti dan masyarakat setempat, serta memfasilitasi upaya kolaborasi untuk menjaga kelestarian pesisir di Desa Tawangsari. Narahubung acara ini dapat dihubungi melalui WhatsApp di nomor 085224895143.

Jangan lewatkan kesempatan ini untuk memahami lebih dalam tentang kehidupan masyarakat pesisir dan berpartisipasi dalam usaha menjaga lingkungan pesisir di Desa Tawangsari.

Warga Desa Blendung Bangun Tanggul Bambu untuk Hadapi Banjir RobDesa Blendung, Kecamatan Ulujami, Pemalang – Dulu dikena...
18/09/2024

Warga Desa Blendung Bangun Tanggul Bambu untuk Hadapi Banjir Rob

Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Pemalang – Dulu dikenal sebagai sentra penghasil bandeng terbesar di Pemalang, Desa Blendung kini menghadapi tantangan besar akibat banjir rob. Pada tahun 2019, air laut naik ke daratan secara drastis, mengakibatkan tambak bandeng dan lahan pertanian warga rusak. Sebagai solusi, warga desa bahu-membahu membangun tanggul dari bambu secara swadaya.

Ketua Penanggulangan Rob Desa Blendung, Haryoto, menyebutkan bahwa warga telah membangun sekitar 400 meter tanggul dari target satu kilometer dengan tinggi 1,5 meter. Pembangunan ini bertujuan untuk mengurangi dampak abrasi dan mencegah air laut masuk ke area tambak dan lahan pertanian warga.

"Abrasi yang terjadi sejak tahun 2019 semakin parah, terutama pada bulan Juni hingga Juli 2024. Rob bahkan mencapai setengah meter di permukiman warga," ungkap Haryoto.

Dampak rob ini meluas ke 150 hektare lahan tambak, sawah, dan perkebunan melati. Puluhan warung yang dulu berdiri di sepanjang pantai kini tutup akibat abrasi. Banyak petani dan petambak terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan mencari nafkah di tempat lain.

Melihat kondisi ini, warga desa berinisiatif untuk membangun tanggul sederhana berbahan bambu. Dana pembangunan diperoleh dari sumbangan warga dan donatur, namun baru terkumpul Rp 150 juta dari total kebutuhan Rp 520 juta. Tanggul bambu tersebut diharapkan bisa menjadi pemecah gelombang yang mampu mengurangi abrasi.

Salah satu petani tambak, Eriyanto, menjelaskan bahwa rob telah mengikis area tambak yang berada di sisi utara desa, menyebabkan lahan tambak tergenang air laut.

"Tambak kami sudah habis, tertutup air laut. Kualitas bandeng yang kami hasilkan dulu dikenal bagus dan banyak dikirim ke Semarang hingga Jakarta," ungkapnya.

Bupati Pemalang, Mansur Hidayat, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah melakukan survei dan merencanakan alokasi anggaran Rp 5 miliar untuk penanggulangan rob pada tahun 2025 mendatang.

Melalui gotong royong dan kerja keras, warga Desa Blendung berharap tanggul bambu ini dapat melindungi mereka dari ancaman rob di masa depan.

Sumber: Pemalang Today

Address


Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Buletin Losari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Buletin Losari:

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share