Santri Aceh

Santri Aceh Media Kreativitas Santri

21/09/2024

Asoe Syurga Ayah 🤲🤲

Aceh - Syaikh Dr. Said Abdul Latif merupakan seorang ulama ahli ilmu kalam dari Jordania. Beliau dikenal sebagai ulama p...
05/06/2024

Aceh - Syaikh Dr. Said Abdul Latif merupakan seorang ulama ahli ilmu kalam dari Jordania. Beliau dikenal sebagai ulama produktif dengan lebih dari 100 karya dalam berbagai disiplin ilmu, telah mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan prinsip-prinsip akidah ahlu sunnah wal jamaah dan menolak berbagai pemahaman menyimpang baik dari kalangan Islam maupun orientalis.

Seminar-seminar seperti yang dilaksanakan di Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, Dayah MUDI Samalanga dan Dayah Raudhatul Muarif Al-Aziziyah Cot Trueng di terjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Tengku alumni Dayah.

Siapa sosok hebat tersebut?. Berikut biografi singkat beliau:

Tgk. H. Muhammad Syakir Anwar, atau kerap dipanggil Bapak Taliya, lahir di Tanoh Mirah pada 02 Mei 1991. Menempuh pendidikan dasar formal MIN 1 Matang Glp Dua. Lalu mengkhatamkan pendidikan SMP di dayah Ulumuddin.

Setelah itu, beliau mengeyam pendidikan salaf di sejumlah dayah, mulai dari MUDI Mesra, Ruhul Fata Seulimum, lalu menetap lama di Raudhatul Ma’arif Cot Trueng.

Setelah lama aktif mengajar di Cot Trueng, beliau berkeluarga pada 2020 dan menetap di kampung halaman sembari menghidupkan beut-seumeubeut di dayah warisan orang tua, Miftahul Ulum Tanoh Mirah.

Hingga kini, beliau juga aktif menjadi dosen di Ma’had Aly Cot Trueng. Selain itu, beliau juga telah berkiprah dalam sejumlah organisasi, di antaranya HUDA, TASTAFI, GMDA, dan RTA.

Melalui terjemahan beliau, peserta seminar mendapatkan kepuasan yang tak biasa, selain penggunaan bahasa yang baik dan lugas, beliau juga memahami detail materi ilmiyah yang disampaikan oleh Syaikh, dengan demikian poin-poin penting mampu dikemas dengan baik dan renyah.

08/02/2024

Partai Adil Sejahtera (PAS Aceh) adalah satu partai politik lokal Aceh yang dirintis pada tahun 2021.

Berdirinya PAS Aceh merupakan salah satu rekomendasi hasil Ijtima’ Ulama Aceh dalam Silaturahmi Ulama Aceh (SUA) pada 10 November 2021 di Banda Aceh.

Turut hadir dalam Silaturahmi ini sejumlah Ulama Kharismatik Aceh seperti ABUYA MAWARDI WALY, ABU TUMIN, ABU KUTA KRUENG, ABU MUDI, ABU LAMKAWE, ABU TANJONG BUNGONG, ABU ULEE T**I, ABU MADINAH, WALED SIRAJUDDIN, WALED NU SAMALANGA, WALED HUSAINI A WAHAB, AYAH COT TRUENG, TUSOP JEUNIEB, ABU SIBREH, ABI HASBI ALBAYUNI, ABAH FATANI SUBUSSALAM, ABU DAHLAN ABDYA, ABU MAHMUDIN SERAMBI, WALED NURA, WALED RASYIDIN GRONG GRONG, ABI ISHAK AGARA, ABI ZULKARNAIN GALUS, ABON FAHMI SIMEULU, WALED ALMUZANI BENER MERIAH, TU BULQAINI TANJONGAN, ABI NAS JEUNIEB, ABI HIDAYAT WALY, Dan Hingga Mencapai 400 Ulama dari seluruh Aceh, mulai dari yang sepuh hingga ulama muda.

Partai ini secara resmi dideklarasikan pada 22 Februari 2023.

Pernyataan kelahirannya saat itu dibacakan langsung oleh ABUYA MAWARDI WALY AL-KHALIDY Putra Almarhum ABUYA MUDA WALY AL-KHALIDY.

Semoga Partai ini Menjadi Payung Tempat Bernaung Bagi seluruh masyarakat Aceh dalam menjalani kehidupan yang Adil dan Sejahtera.

Sajan Ulama, Agama Tapeukong, Nanggroe Tajaga.

WALIDI COT TRUENG (Tgk Muzakir Walat, No Urut 7) Caleg DPRK Aceh Utara Dapil IV (Dewantara, Muara batu, Sawang) Partai A...
16/01/2024

WALIDI COT TRUENG (Tgk Muzakir Walat, No Urut 7) Caleg DPRK Aceh Utara Dapil IV (Dewantara, Muara batu, Sawang) Partai Adil Sejahtera (PAS) ACEH, InsyaAllah bersama Ulama Menuju Aceh yang Adil dan Sejahtera.

34 Sebab yang menjadikan fakir1. Tidur dalam keadaan telajang2. Kencing dalam keadaan telanjang3. Makan dalam keadaan be...
15/12/2023

34 Sebab yang menjadikan fakir

1. Tidur dalam keadaan telajang
2. Kencing dalam keadaan telanjang
3. Makan dalam keadaan berjunub
4. Makan sambil tiduran
5. Membiarkan berserakannya sisa makanan.
6. Membakar kulit bawang merah dan bawang putih.
7. Menyapu lantai dengan sapu tangan.
8. Menyapu rumah di malam hari
9. Membiarkan sampah mengotori rumah.
10. Memanggil orangtua dengan nama keduanya.
11. Mencongkel gigi dengan benda kasar.
12. Mencuci tangan dengan lumpur dan debu.
13. Duduk di beranda pintu.
14. Besandar pada kaki gawang pintu.
15. Berwudhu’ di tempat Qada hajat (Buang air besar dan kecil).
16. Menjahit pakaian yang sedang dipakai.
17. Mengelap wajah dengan kain.
18. Membiarkan sarang laba-laba dirumah.
19. Meremehkan shalat.
20. Bersegera keluar dari mesjid sesudah shalat subuh.
21. Pergi ke pasar di pagi buta.
22. Berlama-lama di pasar.
23. Membeli potongan makanan dari fakir yang meminta (mengemis).
24. Berdoa keburukan kepada anak.
25. Mematikan lampu (lilin) dengan cara meniup.
26. Menulis dengan pena rusak.
27. Menyisir rambut dengan sisir rusak.
28. Tidak mau berdoa dengan kebagusan bagi orang tua.
29. Memakai sorban sambil duduk.
30. Memakai celana sambil berdiri.
31. Bersikap kikir.
32. Terlalu hemat.
33. Berlebihan dalam kehidupan.
34. S**a menunda dan meremehkan pekerjaan.

Sumber : kitab Ta’lim Muta'alim hal.43-44

13/12/2023

Hukom Cok Peng Caleg

TIPS AGAR ISTIQAMAH SHOLAT MALAMAl-Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (w. 505 H) dalam kitab Ihya' Ulumiddinnya mengutip...
25/11/2023

TIPS AGAR ISTIQAMAH SHOLAT MALAM

Al-Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (w. 505 H) dalam kitab Ihya' Ulumiddinnya mengutip sebuah percakapan seorang laki-laki yang bertanya kepada al-Hasan al-Bishri tentang dirinya yang sulit untuk melaksanakan sholat malam. Dalam kitab itu al-Imam al-Ghazali mengisahkan:

قال رجل للحسن : يا أبا سعيد إني أبيت معافى وأحب قيام الليل وأعد طهوري فما بالي لا أقوم؟ فقال: ذنوبك قيدتك.

Seorang laki-laki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?” Al-Hasan menjawab, “Dosa-dosamu mengikatmu.”

Lalu al-Imam al-Ghazali melanjutkan kisah yang pernah dialami Sufyan ats-Tsauri beliau berkata:

وقال الثوري: حرمت قيام الليل خمسة أشهر بذنب أذنبته، قيل وما ذاك الذنب؟ قال: رأيت رجلاً يبكي فقلت في نفسي هذا مراء

Sufyan ats-Tsauri berkata: “Selama lima bulan aku merugi tidak melakukan shalat malam karena dosa yang aku perbuat.” Ia ditanya, “Apakah dosa yang engkau lakukan?” Ia menjawab: “Aku melihat seseorang menangis, lalu aku berkata dalam diriku, ‘Orang ini riya’."

Rupanya dari dua cuplikan kisah di atas, membuat al-Imam al-Ghazali terinspirasi menyematkan dalam kitab Ihya Ulumuddinnya tips dan syarat-syarat agar mudah bisa istiqomah melakasanakan sholat malam setiap hari. Beliau berkata:

اعلم أن قيام الليل عسير على الخلق إلا على من وفق للقيام بشروطه الميسرة له ظاهرا وباطنا

“Ketahuilah bahwa qiyamul lail itu sulit kecuali bagi orang yang telah ditolong qiyamul lail yang memudahnya melakukan qiyamul lail secara dhahir dan batin".

📌 Adapun syarat-syarat memudahkan sholat malam secara dhohir adalah:

1. Tidak memperbanyak makan yang bisa menyebabkan banyak minum dan banyak tidur jadinya berat untuk bangun malam.

2. Tidak memayahkan diri disiang hari dengan perkerjaan yang melemahkan tubuh karena hal itu juga menyebabkan mudah tidur.

3. Tidak meninggalkan qailulah di siang hari karena qailulah adalah sunnah yang bisa menolong qiyamul lail.

4. Tidak melakukan dosa di siang hari karena melakukan dosa bisa mengeraskan hati dan bisa menghalang-halangi antara dia dengan sebab rahmah.

Sedangkan syarat-syarat memudahkan sholat malam secara bathin:

1. Selamatnya hati dari rasa iri terhadap orang-orang muslim, bid'ah dan dari kelebihan urusan dunia yang menjadikannya bercita-cita menghabiskan waktunya untuk mengurusi dunia, hal ini menyebabkan sulit untuk qiyamul lail dan kalau pun bisa qiyamul lail maka tidak berfikir tentang qiyamul lailnya malahan yang difikir dalam qiyamul lailnya adalah urusan dunia.

2. Perasaan takut yang sangat beserta memperpendek angan-angan karena seseorang berfikir tentang hiruk pikuk akhirat dan tingkatan neraka maka dia sulit untuk tidur dan besar rasa takutnya.

3. Mengetahui keutamaan-keutamaan qiyamul lail dengan mendengarkan ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar tentang qiyamul lail hingga menjadi tetap harapan dan kedambaannya pada pahala dan bisa membangkitkan rasa rindu untuk mencari tambahan dan kecintaan pada derajat surga.

4. Cinta kepada Allah dan kuatnya keimanan bahwa dalam qiyamul lail, dia tidaklah berbicara dengan satu huruf kecuali dia sedang bermunajat (berbisik) dengan Rabbnya dan Dia memperhatikan hamba-hamba-Nya serta melihat apa yang tarbesit di dalam hatinya dan apa yang terbesit dalam hatinya adalah bersumber Allah yang dekat bersamanya.

فإذا أحب الله تعالى أحب لا محالة الخلوة به وتلذذ بالمناجاة فتحمله لذة المناجاة بالحبيب على طول القيام.

ketika seorang cinta kepada Allah maka akan s**a menyendiri tanpa ada keraguan, dan akan merasa nikmat dengan munajat pada-Nya setelah itu nikmatnya bermunajat dengan Sang Kekasih menjadikannya kuat qiyamu lail dalam waktu lama.

📚 احياءُ علومِ الدين، ص : ٣٦٢
والله سبحانه وتعالى اعلم بالصواب

Mendidik Anak Menurut Abu Mudi---Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya sempat bertanya-tanya bagaimana caranya Abu Mudi m...
16/11/2023

Mendidik Anak Menurut Abu Mudi
---
Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya sempat bertanya-tanya bagaimana caranya Abu Mudi mendidik anak-anaknya. Kenapa begitu sukses?

Saya mendapatkan satu kesamaan yang positif di antara anak-anak Abu. Tidak perlu saya sebutkan apa, tapi itu jarang didapatkan dalam sebuah keluarga. Apakah kebetulan? Saya tidak yakin.

Hal ini terus membingungkan saya. Ada kiat apa yang dilakukan Abu Mudi? Tapi saya tidak pernah bertanya kepada Abu.

Beberapa bulan yang lalu, dalam pengajian rutin mingguan di Balai al-Bakri, Samalanga, seseorang bertanya kepada Abu bagaimana caranya Abu mendidik anak-anaknya? Itu pertanyaan melalui SMS, saya tidak tahu siapa yang menanyakannya, tapi saya berterima kasih kepadanya.

Mendengar pertanyaan itu, Abu tersenyum. Saya menunggu jawaban yang spektakuler dari Abu, yang ilmiah atau yang mendalam mungkin. Tapi ternyata tidak, jawaban Abu justru sangat sederhana, dan mengundang tawa seluruh jamaah. Bahkan sampai sekarang, saya senyam-senyum sendiri jika mengingat jawaban Abu itu. 🤭

Tapi, dari jawaban sederhana dan lucu Abu, saya akhirnya mendapatkan jawaban lebih dari yang dibutuhkan. Jawaban Abu seperti mengilhami saya lebih jauh konsep mendidik anak; menggali akar terdalam terhadap apa yang paling urgen dilakukan orang tua. Ribuan kalimat langsung hadir dalam kepala saya setelah itu.

Terkadang, sesuatu yang sederhana justru tidak terukur. Sesuatu yang rumit malah tidak berisi.

Jawaban Abu ketika ditanyakan bagaimana cara mendidik anak begini,

"Hana lon didik, lon peulheuh di Dayah. Jimeurot-meurot keudroejih."

Jawaban Abu sekilas memang lucu, tapi dari jawaban Abu di atas, saya teringat segala perkataan Abu dalam berbagai pengajian. Saya mulai mengumpulkan yang berserakan dan menjadikannya satu konsep yang utuh.

Ada beberapa konsep mendidik anak yang saya kumpulkan dari kalam Abu Mudi, yaitu:

1. Membantu santri dayah

Abu pernah mengatakan, "Kalau kamu ingin anakmu baik dan betah di dayah, bantulah santri dayah." Abu mengatakan ini karena beliau sendiri bukanlah anak dari kalangan ulama, tapi beliau justru jadi ulama besar.

Ayah Abu Mudi, Haji Gadeng, sangat s**a memuliakan dan membantu santri dayah. Dulu, ketika orang tua Abu menjual nasi, setiap santri yang datang boleh makan gratis. Peduli berapapun mereka datang, semuanya tidak usah bayar. Lebih jauh, dari lubuk hatinya memang mencintai anak-anak dayah. Cinta yang berujung penghormatan dan harapan. Penghormatan untuk mereka dan harapan untuk anaknya.

Anda dapat memberikan apapun untuk melakukan hal ini, bukan hanya makanan, apapun yang berguna.

Intinya, bantulah anak-anak dayah, secara ikhlas, tanpa pamrih. Jika bukan anakmu yang alim, pasti ada cucumu yang alim. Itu juga berkali-kali Abu katakan dalam pengajian, bahkan memberikan contoh-contoh lain, bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Selain kalam Abu, saya juga sering menemukan kebenaran teori ini. Ketika saya melihat seseorang begitu baik, begitu berhasil dalam pendidikannya di dayah dan menjadi alim, ujung-ujungnya saya temukan bahwa orang tua mereka adalah khadim ulama, khadim teungku, atau simpatisan teungku yang rela mengorban apapun. Karena khidmat akan melahirkan berkat.

Itulah poin pertama. Pertanyaannya, berapa besar kecintaan Abu Mudi kepada santri dayah? Berapa banyak Abu membantu mereka? Maka jawabannya "tidak terhingga". Puluhan tahun, semenjak tamat SMP, jiwa raganya sudah penuh dengan kecintaan itu. Puluhan tahun, umur beliau habis untuk hal itu; mengajari mereka siang malam. Puluhan orang menjadi ulama di tangannya. Ribuan orang bisa membaca kitab di bawah asuhannya. Puluhan ribu lainnya mengenal agama dan Tuhannya berkat ilmu darinya. Khidmat apalagi yang lebih besar dari ini. Apakah aneh jika di kemudian hari anak-anaknya begitu baik, begitu berakhlak, bahkan alim seperti Abi Mudi? Itu adalah balasan nyata di dunia.

Saya menyimpulkan, ketika engkau membantu anak-anak orang lain, Allah SWT akan membantu anak-anakmu.

Perbaiki dirimu, anakmu akan mudah diperbaiki. Bahkan dalam hal apapun, teorinya tetap sama: bantulah agama Allah, Allah akan membantu dirimu. Bantulah anak orang lain, Allah akan membantu anakmu. Dan itu akan menjadi poin kedua kita.

Mungkin ada yang mendebat, kenapa anak nabi Nuh as tidak mengikuti jejaknya, padahal dirinya sendiri seorang Nabi, yang tidak diragukan lagi khidmatnya kepada agama Allah. Maka jawabannya adalah, tidak ada rumus yang pasti di dunia ini dalam hal apapun. Hal itu untuk memberitahu kepada kita bahwa segalanya di tangan Allah semata. Kita hanya bisa berusaha. Dan lagi, dalam hal apapun pasti ada pengecualian.

Saya telah menuliskan tentang bagaimana segala sesuatu di dunia ini berjalan, atau dalam bahasa lain bagaimana sunnatullah itu berlaku. Tapi karena ini bukan waktu yang tepat, tidak saya kemukakan di sini. Intinya, ada hal-hal yang berlaku di dunia ini secara adat, yang berulang-ulang terjadi seperti itu, seperti ada rumus, tapi itu ada pengecualian. Pengecualian itu dimaksudkan supaya kita tahu bahwa ada Tuhan di dunia ini.

2. Membantu agama Allah

Untuk menjelaskan poin kedua ini butuh waktu yang panjang. Tapi semuanya bermula dari ayat di bawah ini. Ini janji Allah sendiri, yang tidak mungkin dipungkiri.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Qs. Muhammad: 7)

{ إِن یَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن یَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِی یَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ }
[Surah l-`Imrân: 160]

Artinya: Jika Allah menolongmu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kamu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

Masih banyak ayat-ayat lain yang menyatakan hal serupa. Misalnya kisah Maryam alaihassalam. Ia adalah bukti nyata bakti orang tuanya terhadap agama, yaitu ketika Maryam dinazarkan orang tuanya untuk diberikan sebagai khadam agama, namun sayangnya, yang lahir adalah perempuan sehingga tidak mungkin melakukan hal-hal di luar rumah. Maka ia hanya disuruh untuk beribadah saja.

Ini bukan lagi membantu agama, bahkan anaknya sendiri diwakafkan untuk agama. Ini adalah penghormatan dan pengabdian tertinggi. Betapa banyak, ketika seseorang punya anak, ia membayangkan untuk memanfaatkan anaknya demi kepentingannya di dunia. Ia ingin anaknya kaya raya, sukses menjadi pejabat ini dan itu, demi kekayaan dan kehormatan yang akan kembali kepadanya. Kapan mereka pernah berpikir untuk melihat anaknya menjadi khadam agama.

Begitulah. Jika orang tua membantu agama Allah, itu baik bagi dirinya dan juga anaknya. Membantu agama Allah ini sangat umum. Apapun yang dapat menolong perkembangan dan ketinggian agama Allah, lakukanlah. Misalnya membantu fakir miskin, membuat masjid, mewakafkan tanah untuk kepentingan umum, menyantuni anak yatim, dan lain sebagainya.

Secara lebih umum, apapun yang mengalir manfaat untuk orang lain, untuk masyarakat umum, maka lakukanlah. Melakukannya secara rutin lebih baik ketimbang banyak tapi sesekali.

Amalan yang baik itu tergantung orangnya. Misalnya orang kaya, ia lebih baik membantu dengan hartanya ketimbang dengan tenaga dan doa. Sebaliknya, jika ia orang miskin, ia bisa membantu dengan tenaganya, doa dan pikirannya. Itulah kebijaksanaan.

Bukan hanya dalam islam, tentang membantu orang ini telah diakui oleh semua orang bijak di dunia.

Leo Tolstoy menulis dalam bukunya, “Bayangkan saja tujuan kehidupanmu hanyalah kebahagiaanmu, maka kehidupan akan menjadi kejam dan tak berperasaan. Kau harus mendekap kebijaksanaan kemanusiaan, kecerdasanmu, maka hatimu akan memberitahumu: bahwa makna kehidupan adalah melayani daya yang mengirimmu ke dunia. Maka kehidupan pun akan menjadi kegembiraan yang terus-menerus.”

Membantu orang telah menjadi puncak kemulian dari perilaku seseorang di negara dan bangsa manapun. Membantu orang lain adalah suatu perbuatan yang dijunjung tinggi. Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain, begitu kata Baginda Rasulullah saw.

Dalam pepatah Cina disebutkan, "Orang baik saling menolong bahkan tanpa menyadari bahwa mereka melakukannya, sedangkan orang jahat saling menentang secara sengaja."

Tidak perlu memanjangkan pembahasan poin kedua ini, karena memang ia telah terang seterang rembulan di malam purnama. Hanya kita harus melihatnya.

3. Memberikan harta yang halal

Harta yang halal sangat penting bagi pertumbuhan anak. Belum pernah terdengar seorang alim dan salih lahir dari orang tua yang bergelimang dengan harta haram. Bagaimana tidak, harta yang haram akan menjadi daging yang haram, yang tumbuh dalam badannya. Jika kelak ia mempunyai anak, anak itu akan penuh dengan sesuatu yang haram. Apa yang bisa diharapkan dari darah dan daging yang tumbuh dari harta haram?

Setelah puluhan tahun belajar di beberapa pesantren, saya telah melihat banyak orang tumbuh dan berkembang. Sebagian saya tahu ayahnya tidak begitu iffah dalam agamanya, tidak begitu menjaga diri dan hartanya dari yang haram, maka hasilnya juga sudah pasti ditebak, anaknya tidak betah di pesantren. Entah apapun yang dilakukannya, anaknya tidak juga mau menetap di pesantren. Bahkan kadang gurunya kehabisan akal bagaimana membujuk anak itu agar mau tinggal saja di pesantren, mereka tidak mengharapkan lebih. Tapi anaknya seperti binatang liar, diikat pun tetap berusaha melarikan diri dari dayah. Ini sudah sering terjadi. Tapi bukan berarti setiap yang tidak betah di dayah adalah anak dari harta haram. Tidak lazim.

Jadi, jika Anda masih s**a dengan yang haram, mengambil harta orang lain tanpa hak, atau s**a menzalimi orang, berarti Anda ingin “membunuh” anak-anak dan keturunan sendiri. Karena yang paling terdampak adalah mereka. Dan jika demikian, jangan sekali-kali mengharapkan sesuatu yang baik dari anak Anda. Bahkan mungkin Anda sendiri akan dibunuh beneran oleh mereka. Bukankah sudah banyak kejadian anak membunuh ayahnya, menusuk ibunya hanya gara-gara hal sepele? Anda akan memetik apa yang Anda tanam.

Ayah saya, sebagai bilal di masjid, seringkali diserahkan uang oleh masyarakat untuk wakaf atau pembangunan masjid. Kami sebagai anaknya diingatkan untuk tidak sekali-kali mengambil uang itu dalam situasi apapun. Padahal uang masih bisa diganti dengan uang yang lain, asalkan nilainya sama, lagian itu belum tentu sebagai wakaf. Beda dengan wakaf barang yang tidak mungkin digantikan. Tapi ia tetap tidak membolehkan. Salut buat ayah.

Seberapa penting makanan bagi perkembangan seseorang?

Dulu, ada seorang wali besar yang telah menunjukkan karamahnya semenjak dalam kandungan. Asalkan ibunya makan harta yang tidak jelas—mungkin saja ibunya saat itu tidak mengetahui keadaan makanan yang dimakannya, ibunya akan langsung muntah. Para ulama menganggap hal itu sebagai mahfudh (penjagaan) dari Allah swt semenjak kecil. Karena seseorang yang sudah dipersiapkan untuk menjadi waliyullah biasanya dijaga sejak kecil dari hal-hal yang diharamkan.

Dari cerita di atas tentunya kita bisa mendapatkan kesimp**an betapa pentingnya makanan yang halal bagi seorang anak. Semenjak dalam kandungan seorang ibu sudah harus memperhatikan setiap makanannya.

Makanan yang haram itu ada dua, adakala zatnya memang haram, seperti babi, anjing, khamar, dan sejenisnya, ada juga makanan yang haram secara hukum, yaitu makanan yang didapatkan dari jalan haram. Sungguh aneh kebanyakan dari umat islam saat ini sangat anti memakan babi tapi tidak begitu peduli dengan mencuri atau korupsi. Padahal dosa dari memakan harta korupsi dan mencuri bisa saja lebih banyak ketimbang makan babi—bukan maksud saya kita bisa mengkonsumsi babi, tapi hanya untuk membandingkan. Karena suatu perbuatan dosa, semakin besar efeknya bagi orang lain, semakin besar dosanya. Misalnya korupsi, ada berapa ratus atau ribu orang yang kita ambil haknya, maka sejumlah itulah dosanya. Semakin menyengsarakan orang, semakin besar p**a dosanya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik bagi orang lain, begitu p**a sebaliknya, manusia yang paling jahat adalah yang paling mengganggu dan merugikan orang lain.

4. Lingkungan/keluarga yang baik

Lingkungan yang baik sangat berpengaruh bagi seseorang. Saya membaca banyak buku best seller dari berbagai macam bangsa dan agama, saya menemukan ternyata tidak satupun dari mereka yang mengabaikan hal ini. Bahkan mereka membahas panjang lebar betapa pentingnya lingkungan yang baik bagi perkembangan seseorang. Misalnya Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich menyebutkan bahwa secepatnya kita harus meninggalkan lingkungan yang buruk. Menurutnya, satu orang yang mendukung dan membantu kita lebih baik ketimbang puluhan orang yang justru merugikan dan tidak menghargai kita.

Lingkungan bagaikan racun yang bisa mematikan siapapun, dan bisa juga menjadi penawar dari segala penyakit. Tergantung lingkungannya.

Dulu saya bingung, bagaimana menjelaskannya secara ilmiah bahwa pikiran buruk dan lingkungan buruk dapat memengaruhi pertumbuhan seseorang. Apa hubungannya. Akhirnya saya menemukan jawabannya dalam buku Napoleon Hill di atas, bahwa pikiran-pikiran itu dapat menular dan dapat ditangkap oleh fisik orang lain layaknya pemancar radio menangkap gelombang-gelombang yang dipancarkan dari jauh. Itulah kenapa pikiran buruk saja memengaruhi kenyataan. Sungguh ajaib ciptaan Allah swt. Pembahasan tentang hal ini sungguh menarik. Saran saya Anda membaca buku Napoleon Hill itu. Sekalipun Penulisnya bukan muslim, tapi di dunia ini ada beberapa hal yang konsepnya sama.

5. Bergaul dengan banyak ulama

Melihat orang alim itu saja sudah ibadah. Bayangkan berapa banyak manfaat jika kita tidak hanya melihat wajahnya, tapi bergaul dan berinteraksi setiap hari dengannya. Tentu manfaatnya tidak terbayangkan. Menurut riwayat, dulu sahabat Nabi menjadi manusia terbaik bukan hanya karena mendengar langsung perintah Nabi dan melihat sendiri wahyu diturunkan, akan tetapi yang lebih penting adalah mereka bergaul dengan Nabi dan setiap hari melihat Nabi saw. Itulah yang menjadi pelajaran terbesar bagi mereka.

Diriwayatkan p**a bahwa Abu Jahal selalu menutup wajahnya ketika berjumpa dengan Nabi, tidak mau melihat Nabi karena takut akan timbul rasa kasihan dan sayang di dalam hatinya. Begitu hebatnya pengaruh pandangan.

Jika Anda ingin anak Anda baik, antarkan mereka ke dayah, karena disana lah mereka bisa melihat orang alim dan bergaul dengan mereka. Dengan sering bergaul dengan mereka, siapa tahu anak Anda nantinya menjadi seperti mereka.

6. Ditahniq oleh ulama

Tahniq atau peucicap adalah perbuatan yang dianjurkan. Dalam kitab ulama, banyak disebutkan bahwa tahniq disunatkan pada hari ketujuh kelahiran seseorang. Tahniq sebaiknya dilakukan oleh orang shalih dan shalihah, agar keshalihan mereka mengalir bagi anak tersebut.

Pada hari ketujuh kelahiran anak Anda, disunatkan bagi Anda untuk memberikan mereka nama dengan nama yang baik, mencukur rambut anak dan memberikan emas atau perak dengan kadar berat rambutnya. Di samping itu, juga disunatkan untuk menyembelih aqiqah, dan lain-lainnya.

Tidak semua yang disebutkan di atas adalah kalam Abu Mudi. Sebagiannya adalah hasil dari penelitian saya sendiri dari berbagai literatur yang ada. Banyak juga metode lain dalam mendidik anak, tapi bagi saya, metode di atas adalah yang terbaik dan besar pengaruhnya. Sedangkan teknis yang dilakukan sehari-hari, seperti jangan memarahinya, jangan membentak, jangan ucapkan kata negatif, dll, adalah urusan kecil yang tidak terlalu berpengaruh, walau sebaiknya juga diperhatikan. Tapi terlalu takut berlebihan juga tidak baik. Apalagi di zaman ini, banyak sekali aturan dalam mendidik anak, yang tidak terbukti benar-benar berpengaruh. Jika menuruti segala ilmu parenting itu, tidak ada yang bisa dilakukan bagi anak. Bahkan sebagiannya kontradiktif antara satu sama lain.


Itulah 6 poin penting yang saya pahami dari kalam Abu. Dari enam poin itu, semuanya lengkap ada pada keluarga Abu Mudi. Jadi ketika beliau mengatakan, "lon peulheuh di dayah," itu artinya beliau memberikan lingkungan terbaik yang bisa diberikan seorang ayah. Sejak lahir, anak-anak Abu hidup dalam lingkungan pesantren, bergaul dengan banyak ulama, ditahniq, dicintai, dan didoakan oleh banyak orang shalih, dan ratusan privilege lain yang s**ar dilukiskan dengan kata-kata.

Kesimp**annya, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain. Sebagai turunannya, ayah yang baik adalah ayah yang juga bermanfaat bagi anak orang lain.

Itu adalah teori dasar bagi seorang muslim. Banyak yang tahu, tapi ada berapa orang yang sanggup melakukannya.

Kisah Imam Syafi'i dan Putri Imam Ahmad bin Hanbal زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في دار...
16/11/2023

Kisah Imam Syafi'i dan Putri Imam Ahmad bin Hanbal

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .

Suatu hari Imam Syafi'i semoga Allah merahmatinya berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang shalihah; kalau malam beribadah, siang berpuasa dan menyukai kisah orang-orang shalih. Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi'i secara langsung sebab sang ayahnya sangat menghormatinya.

Ketika Imam Syafi'i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi'i serta mendengar ucapan-ucapannya.

وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها
يا أبتاه ... أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
قال : نعم يا ابنتي .

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat shalat untuk melakukan sholat dan dzikir, Imam Syafi'i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi'i sampai fajar.

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya: "wahai ayahku... Apakah benar dia ini Imam Syafi'i yang engkau ceritakan padaku dulu?"

Imam Ahmad: " benar anakku .."

فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .

Putri: "aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi'i, tapi apa yang aku lihat tadi malam dia...tidak sholat, tidak dzikir tidak p**a wirid? dan aku juga melihat ada 3 hal yg aneh".

Imam Ahmad: "apa saja 3 hal itu, wahai anakku?"

Putri:" ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi'i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yg ku dengar. Ketika masuk kamar, dia tidak beribadah sholat malam. Dan ketika sholat subuh bersama kita, dia sholat tanpa wudlu."

فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله: يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ،

Ketika agak siang dan mereka berbincang-bincang, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi'i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi'i -semoga Allah merahmatinya- berkata: "Wahai aba Muhammad, aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia, sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit, jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu.

Adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku utk tidur, aku melihat seolah-olah al Qur'an dan Hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yg kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan sholat malam.

وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .

فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم

Adapun ketika sholat subuh bersama kalian aku tidak wudhlu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhlu. Semalam suntuk aku terjaga, jadi aku sholat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat Isya."Kemudian Imam Syafi'i berpamitan dan p**ang.

Imam Ahmad berkata kepada putrinya: "yang di kerjakan oleh Imam Syafi'i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil sholat malam ."

Sumber: Kitab Zaadul Murobbiyyin, juga tertera dalam kitab Al Bujairamil Khatib.

ABUYA MUDA WALI AL-KHALIDI & WASIATNYA KEPADA ABON AZIZ SAMALANGAGambar ini merupakan potongan dari ijazah yang diberika...
16/11/2023

ABUYA MUDA WALI AL-KHALIDI & WASIATNYA KEPADA ABON AZIZ SAMALANGA

Gambar ini merupakan potongan dari ijazah yang diberikan oleh Abuya Muhammad Wali Al-Khalidi kepada salah seorang muridnya, Abon Abdul Aziz bin Shaleh Samalanga.

Dalam potongan ijazah ini, Abuya Mudawali menyifati dirinya dengan Afqaril Wara, yang artinya manusia paling Faqir, paling butuh kepada Allah SWT, juga Ahqaril Anam, manusia paling Hina, dan yang lebih rendah dari itu, beliau menyebut dirinya sebagai Hamil Ni’al Al-’Ulama Al-A’lam, yang artinya pembawa Sandalnya para ’Ulama.

Penyebutan Sifat seperti ini menunjukkan jauhnya jiwa beliau dari Ananiyah ﴾Keakuan﴿
Sosok yang menjadi Rahim ’Ulama Aceh memandang dirinya tidak lebih dari sekedar pembawa Sandalnya para ’Ulama.
Beda dengan kita, yang mungkin dengan sedikit ilmu sudah bangga dan merasa segalanya.

Selain itu, Abuya Mudawali juga menyebut dirinya sebagai Khadim ﴾Pelayan﴿ bagi para Pelajar, penuntut ilmu dan orang-orang Faqir di Busnatul Muhaqqiqin Darussalam Labuhan Haji. Beliau mengakhiri penyebutan namanya dengan do’a yang jika orang membaca ijazah ini do’a itu akan tertuju untuknya.

“Semoga Allah memberi rahmat untuknya siang dan malam, dunia akhirat selamanya, terkhusus ketika Husnul Khitam, perpisahan yang indahbdengan dunia yang Fana”

Dalam ijazah ini disebutkan bahwa Abon Abdul Aziz bin Shaleh ﴾Jeunieb﴿ Tamat dan Lulus dari tingkat Bustanul Muhaqqiqin Dayah Darussalam pada hari senin, bulan Dzulhijjah 1377 H atau sekitaran bulan Juni 1958 M.

Kepada Abon, Abuya mengijazahkan setiap apa saja yang sah beliau terima baik secara riwayat maupun dirayat sesuai dengan apa yang tertulis dalam Tsabat ﴾Kitab Tentang Catatan Sanad﴿ Gurunya Syehk Ali bin Husein Al-Maliki yang berasal dari Tsabat Al-’Allamah Al-Amier Al-Kabir dan lainnya.

Abuya juga mengijazahkan kepada Abon riwayat yang beliau terima dari Al-’Allamah Al-Asyi Al Fadhil Syehk Hasan Krueng Kale sesuai yang tertulis dalam Tsabat nya.

Di akhir ijazah yang diberikan oleh Abuya kepada murid-muridnya, termasuk Abon, tertulis suatu Wasiat dan Pesan-Pesan penting yang begitu mendalam.
Yaitu :
1. Agar selalu bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan
2. Menghadirkan gambaran Rasulullah SAW dalam ingatannya siang dan malam
3. Tidak melupakan Gurunya dalam Do’a terbaiknya
4. Tidak mengingkari Fatwa Gurunya kecuali setelah jelas sekali terjadi kekeliruan sebagaimana jelasnya matahari di pertengahan siang
5. Senantiasa berpegang kepada Allah dalam menggapai semua cita-citanya, bukan kepada Al-Aghyar (Selain nya)

Demikian beberapa poin yang tertulis dalam bagian ijazah yang Abuya Mudawali berikan kepada Abon Abdul Aziz bin Muhammad Shaleh.

Penulis Artikel Teks :
Teungku Haji Muhammad Iqbal Jalil

Address


Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Santri Aceh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Videos

Shortcuts

  • Address
  • Alerts
  • Videos
  • Claim ownership or report listing
  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share